Wanita Keadilan

Wanita ini berdiskusi tentang kontribusi untuk bangsa

Wanita ini berdiskusi tentang kontribusi untuk bangsa, beliau merupakan Aleg PKS

Tanggal 21 April, orang sebut hari ini sebagai Hari Kartini. Hari yang saya bingung memaknainya bagaimana, bukan hari ibu, bukan juga hari perempuan. Pada tanggal ini orang ribut berbicara tentang persamaan gender, tentang emansipasi wanita. Tentang wanita yang juga memiliki ruang untuk berkarya sama seperti pria. Banyak wanita menjelma menjadi guru, pengacara, supir busway, ahli keuangan, dosen, dan lain-lain. Banyak wanita lupa pada peran intinya: madrasah pertama anak-anaknya.

Ibu Ledia Hanifah, Aleg PKS DPR-RI berbicara tentang peran wanita dalam dunia politik

Ibu Ledia Hanifah, Aleg PKS DPR-RI berbicara tentang peran wanita dalam dunia politik

“Jangan anggap rendah Ibu Rumah Tangga, hari ini banyak hadir IRT yang politikus, IRT yang aktivis, IRT yang punya peran untuk membuat bangsanya lebih baik” Bu Ledia berkata seperti itu saat press confrence di Milad PKS ke 15. Ada yang menarik dengan pernyataan beliau, ia tidak berkata “Banyak wanita yang politikus, banyak wanita yang aktivis” melainkan “Ada Ibu Rumah Tangga yang politikus, ada IRT yang aktivis”. Artinya, wanita yang sudah menikah tak bisa hilangkan profesi mulia yang melekat pada dirinya sebagai Ibu Rumah Tangga. Sehebat apapun wanita di luar sana, ia tak boleh lupa bahwa dirinya adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia tak boleh lupa, ada suami yang harus ia cintai dan ia khidmati sebagai jalan menuju JannahNya.

Memimpin rapat tentang peran wanita dalam perubahan bangsa.

Memimpin rapat tentang peran wanita dalam perubahan bangsa.

Wanita keadilan, mengajarkan saya tentang keseimbangan itu. Wanita-wanita hebat ini adalah wanita hebat di luar dan di rumahnya sendiri. Di tengah kesibukan profesinya sebagai da’i dan agen perubahan masyarakat, mereka juga Ibu yang penuh cinta. Kita harus berkarya untuk ummat, kita punya peluang yang sama untuk berikhtiar menjadi hamba terbaik, namun kita tak boleh lupa pada kewajiban utama: menjadi hamba bagi TuhanNya, menjadi Ibu bagi anaknya, menjadi Istri bagi suaminya. Apalah arti kebebasan dan puncak karir, jika ada anak yang lupa kita bimbing, ada suami yang lupa kita urusi dan hormati.

Almarhumah Yoyoh Yusroh, sosok yang sukses menjadi politikus, aktivis, guru, ibu dan istri yang baik. Di luar sana (insya Allah) ada puluhan, ratusan bahkan ribuan   wanita yang akan sepertimu

Almarhumah Yoyoh Yusroh, sosok yang sukses menjadi politikus, aktivis, guru, ibu dan istri yang baik. Di luar sana (insya Allah) ada puluhan, ratusan bahkan ribuan wanita yang akan sepertimu

Membawa anak ditengah-tengah agenda Rapimnas PKS. Ia berikan contoh bahwa ibunya ada untuk ummat dan dirinya

Membawa anak ditengah-tengah agenda Rapimnas PKS. Ia berikan contoh bahwa ibunya ada untuk ummat dan dirinya

wanita keadilan 3

kasih ibu

 

 

 

4 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s