Setangkup Rindu dari Jogja 3

Kota Penuh Cerita

Pantai Timang

Blusukan ala Toekang Poto (Foto: Achmad Komaruddin)

Blusukan ala Toekang Poto (Foto: Achmad Komaruddin)

Masih di 30 Maret 2013, dalam keadaan shock sisa tragedi Siung. Semua orang sambil bercanda berteriak-teriak “Fotografer butuh trauma healing…takut sama pantai…haha”. Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Timang, dari Pantai Siung tidak terlalu jauh. Yang pasti, sinyal masih tak terdetect. Pantai Timang pernah diliput oleh Trans TV. Disini tempatnya nelayan mencari lobster. Tidak dengan cara yang biasa, mereka harus menyebrangi karang yang satu dengan karang lainnya menggunakan kereta gantung sederhana. Karena ga ada nelayan yang nyebrang, so mood saya mendadak hilang..haha.

Pantai Timang

Pantai Timang

31 Maret 2013

Misty Borobudur – Bukit Majaksingi (Magelang)

Pukul 04.00 pagi kami bergegas menuju Magelang, tepatnya ke bukit Majaksingi. Dari sini kami akan memotret Borobudur dengan hiasan layer kabut yang dramatis. Letaknya tak jauh dari Borobudur, naik ke atas sedikit lagi. Mobil tidak dapat melalui spot ini, dengan ikhlas hati kami berjalan menuju posisi memotret yang baik dan benar. Tanjakannya curam, saya hampir kehabisan nafas…huh tanda-tanda jarang olahraga dan sudah kelebihan lemak tampaknya..haha. Bukit ini bukan tempat wisata formal, so, ga ada biaya masuk ke tempat ini.

Berada di tengah-tengah kebun  cabe rawit dan daun singkong kami meletakkan tripod lengkap dengan kamera menghadap Candi Borobudur. Tapiiiii sayangnya, kabut turun begitu tebal. Sambil menunggu kabut hilang, saya diajari banyak oleh Kang Dudi, Pak Yan dan Mas Sylva, tentang komposisi, mengatur foto hitam putih, settingan foto serta penggunaan filter lensa. Ya setidaknya saya mulai kenal dengan 2 filter andalah lah ya: GND dan CPL, selain filter UV :p. Kami menunggu hingga pukul 07.00, alih-alih kabutnya hilang   eh malah naik ke atas. Huaaah, gagal penantian kami untuk mengabadikan bangunan bersejarah ini..hiks. Ini tanda, bahwa saya harus kembali lagi ke Jogja :p

Dari atas bukit Majaksingi, sayang Borobudurnya tertutup kabut

Dari atas bukit Majaksingi, sayang Borobudurnya tertutup kabut

Harusnya begini (Foto: Muchammad Ardani)

Kota Gede

Masih dalam kondisi belum mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Gede. Menuju Makam Raja-raja Mataram, selain di Imogiri, Kota gede juga dijadikan makam. Sempet bingung sih, kenapa harus ke makam, secara mau motret apaan dimakam. Eh ternyata, selain menyimpan sejarah berharga bangsa ini. Makam Raja juga dikelilingi oleh komplek abdi dalem. Itu loh, ibu-ibu dan bapak-bapak yang pakai jarit, blangkon, dan baju lurik, yang tugasnya mengabdi pada Sultan Hameng.

jogja 46

Di Makam tidak boleh memotret

Di Makam tidak boleh memotret

Abdi dalem memasuki komplek makam raja-raja Mataram

Abdi dalem memasuki komplek makam raja-raja Mataram

Mengantar pengunjung belajar tentang sejarah panjang Indonesia

Mengantar pengunjung belajar tentang sejarah panjang Indonesia

Melukis topi perang

Melukis topi perang

Abdi Dalem tinggal di komplek ini

Abdi Dalem tinggal di komplek ini

Pengemis kece di Makam Raja, pake kacamata corak love

Pengemis kece di Makam Raja, pake kacamata corak love

Sudah 7 turunan menjadi Abdi Dalem

Sudah 7 turunan menjadi Abdi Dalem

Masih di Kota Gede, tapi di luar Komplek Makam Raja Mataram. Kota Gede selain terkenal dengan kerajinan Peraknya, juga terkenal dengan bangunan-bangunan tua khas jogjakarta. Bangunan bersejarah. Hmmm..karena saya ga bisa foto aristektur, jadiii yang saya foto ya para Toekang Poto saja…terangkum dalam Dibuang Sayang :p. Kurang lebih pesan moral saat hunting berjamaan bersama fotografer, pastikan selalu menjaga gaya dan sikap. Minimalisir ekspresi-ekspresi yang ga kobe. Kenapa? karena kita tidak pernah tahu siapa memotret apa/siapa…waspadalah..waspadalah😀

Tukang poto memotret orang yang memotret orang  yang memotret

Tukang poto memotret orang yang memotret orang yang memotret

Bangunan tua tak terpakai di Kota Gede

. Pesepeda melintasi bangunan tua tak terpakai di Kota Gede

Karnaval :D

Karnaval😀

Tertutup

Tertutup

Istirahat sejenak

Istirahat sejenak

Menatap mesra *uhuk*

Menatap mesra *uhuk*

Toekangpoto minta dipoto

Toekangpoto minta dipoto

1 April 2013

Setelah yang lainnya pulang. Beberapa personil Toekang Poto masih terjebak di Jogjakarta. Karena inisiatif kita yang tinggi, maka disepakati untuk menambah waktu hunting…hahaha. Destinasi selanjutnya adalah: Petung – Merapi. Melihat sisa-sisa erupsi Merapi 2010 lalu. Pertamakali memasuki Petung, suasana mencekam, haru, dramatis langsung terbayang dipikiran saya. Seolah-olah saya ikut dalam situasi saat erupsi Gunung Merapi terjadi. Batu-batu sebesar kulkas 1 pintu menghalangi jalan, batu ini konon terbawa saat erupsi terjadi. Debu sisa erupsi masih menutupi jalan-jalan perkampungan. Sungai tak lagi berfungsi, tertutup batuan dan pasir. Bendungan jebol, rumah warga? hancur.

Jalan yang rata bersama abu

Jalan yang rata bersama abu

jogja 87

jogja 90

Hanyut dalam suasana sedih itu, kami berhenti di sebuah rumah yang kini menjadi museum. Warga berinisiatif mengumpulkan barang-barang yang rusak akibat letusan Merapi, dan tulang belulang sapi.

Pengunjung melihat-lihat benda sisa erupsi di Museum Merapi

Pengunjung melihat-lihat benda sisa erupsi di Museum Merapi

jogja 77

jogja 78

jogja 80

jogja 83

jogja 82

Ibu pemilik rumah

Ibu pemilik rumah

Dari Petung ini kami melanjutkan perjalan ke gerbang masuk Kinahrejo, melihat rumah Mba Maridjan yang habis terkena lahar Merapi. Mobil diparkir di pintu utama, selanjutnya perjalanan bisa ditempuh dengan 4 cara: Sewa mobil land rover (250.000), sewa motor trail (50.000), naik ojek (20.000) atau mandiri dengan kaki sendiri (0 rupiah). Jalannya ga jauh kok, tapi lumayan bikin lemak terbakar :p. Ada apa di rumah Mbah Maridjan? selain ada sisa barangnya yang habis terbakar, ada juga mobil relawan yang ikut terbakar saat evakuasi terjadi. Hal ini mengakibatkan 2 relawan tewas bersama dengan korban lainnya.

Jalan pintas menuju rumah Mbah Maridjan

Jalan pintas menuju rumah Mbah Maridjan

Pak Yudi melintasi rumah Mbah Maridjan

Pak Yudi melintasi rumah Mbah Maridjan

jogja 96

jogja 95

 

Yah….Begitulan kurang lebih perjalanan panjang kami yang bergabung di komunitas Toekang Poto ;D. Salam jepret selalu. Bahwa cerita muncul dari sebuah perjalanan.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s