[Blusukan] Yellow-an Part 1

Apa yang dilakukan warga Jabar pada tanggal 24 Februari 2013? yaaak Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar. Kalo saya? saya mah warga kerajaan Banten, jadi ga ada urusan dalam pilgub Jabar kali ini. Itu Tuti, partner in crime saya yang sering saya benalui dan parasiti *apa dah*, yah bahasa gampangnya: sering saya repotin (sejenis: numpang tidur dikosannya, numpang makan, numpang hidup klo lagi ga ada duit, korban bullying paling sabar). 24 Februari 2013 dia harus pulang ke Kuningan a.k.a Yellow-an, kampung tercintanya untuk memenuhi panggilan mencoblos. Terus? ya saya mendadak kesepian dong, jadi daripada garing kerontang + krik2 karena di depan kosan saya mendadak jadi TPS, mending saya ikut ke Kuningan bareng Tuti. Ngapain? melakukan perjalanan jiwa *tsah*.

Idenya spontan, dengan membawa bekal hanya Rp 100.000 saja *tanggal tua* saya melenggang dengan bahagia. Pukul 13.00 di Terminal Cicaheum, saya naik Bis DAMRI jurusan Bandung – Kuningan dengan membayar Rp 40.000 saja.  DAMRI ini memiliki jadual keberangkatan yang teratur yaitu: 05.00 – 07.00 – 08.00 – 09.00 – 11.00 – 13.00 – 14.00 – 15.00 – 17.00, so ga ada tuh yang namanya ngetem ga jelas.

Lanjut, Bandung – Kuningan ditempuh selama kurang lebih 6 jam (pake macet di daerah Cibiru dan sekitarnya). Melewati UNPAD Jatinangor, IPDN, ITB, dan Sumedang yang jalannya begitu panjaaang membentang.

Dan inilah saya di Kuningan, disambut dengan ramah oleh keluarga Tuti. Dikasih makan, dikasih tempat tidur dan toilet :p. Rencananya, esok hari saya dan Tuti akan main air di Curug Putri. Letaknya di bawah kaki gunung Ciremai.

Pagi hari yang mendung, setelah makan cilok nikmat, saya melakukan liputan langsung detik2 Tuti mencoblos di TPSnya *hah siapa dia*. Dan tepat di pukul 09.00, kami berangkat menuju Curug Putri.

Melalui Desa Cigugur, terus menanjak melewati Goa Maria, ditemani kabut tebal yang turun di sepanjang jalan menuju Curug Putri. Jarak pandang hanya 5 meter saja saudara-saudara. Sempat khawatir, tapi Bismillah saja, kalo jatuh ke jurang ya takdir😀.

anak-anak kaki gunung ciremai berjalan di tengah kabut tebal

anak-anak kaki gunung ciremai berjalan di tengah kabut tebal

Dari rumah Tuti di Winduhaji sampai ke Curug Putri (Palutungan) ditempuh 45 menit saja. Biaya masuk Curug Putri adalah Rp. 7000,00. Selepas gerbang masuk, pohon-pohon pinus terjejer rapi, sejuk dan damai. Aaah, saya selalu suka gunung, semilir anginnya yang sejuk, gesekan daun dan rerumputan, suara kumbang dan burung, suara air yang terus bergerak, berpadu menjadi orkes musik yang menenangkan. Daaan itulah Curug Putri.

Menembus hutan pinus (foto by: Tuti Azizah)

Menembus hutan pinus (foto by: Tuti Azizah)

 

Para pinus berlomba-lomba menjangkau langit

Para pinus berlomba-lomba menjangkau langit

Setelah menembus hutan pinus, gemericik air terdengar lebih jelas. Menuruni tangga sejenak, daaan itu sungainyaaa. Jernih, bersih, rapi dan dingin.

Sungai yang bersih nan menyejukkan mata

Sungai yang bersih nan menyejukkan mata

 

Sungai Curug Putri

Sungai Curug Putri

rada selow sepit (Slow Speed) hehehe

rada selow sepit (Slow Speed) hehehe

Pemandangan yang sungguh-sungguh indah…Subhanallah yaah. Sayang saya ga ahli-ahli amat motret landscape, apalagi cuma punya lensa 35 mm, hiks seadanya aja ya😀.

Curug Putri, airnya deras dan jernih

Curug Putri, airnya deras dan jernih

Target saya dan Tuti adalah bertapa di bawah air terjun yang deras itu..hahaha. Sambil teriak-teriak ga jelas melepas beban *tsah*. Awalnya takut, karena derasnya air terjun itu, menimbulkan sensasi disemprot pake selang pemadam kebakaran dari mobil Damkar. Sakit…ahaha…tapi seruuuu. Gobyos2an kaya orang ga pernah liat air (emang iyeee).

Ini korban stress TA dan Skripsi..Tuti..hahaa..yang teriak2 nama dosen pembimbingnya :p

Ini korban stress TA dan Skripsi..Tuti..hahaa..yang teriak2 nama dosen pembimbingnya :p

Yah gitu deh, setelah asyik teriak-teriak ga puguh, basah dan kedinginan kaya kucing kecemplung. Akhirnya kami lapar. Hahaha. Itu Tuti, yang bingung ngasih rekomendasi makan apa. Dia cuma tahu, bahwa Kupat Tahu Mak Iroh di Jalan Otista enak (tapi emang enak sih). Murah meriah, hanya Rp. 8000 saja.

Sepiring kupat tahu Mak Iroh yang bikin kenyang

Sepiring kupat tahu Mak Iroh yang bikin kenyang

Teruuus…wisata kuliner kedua adalaaaah Rujak Kangkung. Konon makanan khas daerah Kuningan, selain gemblong dan tape ketan. Sebenernya males aja sih ngebayangin kangkung yang notabenenya sayur, terus dirujak. Penampilannya juga ga membangkitkan selera makan. Tapiiii, pas dimakan…hmmmm maknyus dah. Sensasi pedas dan terasi yang kuat berpadu dengan renyahnya daun kangkung. Rujak Kangkung Ibu Dian Asli Cibingbin  ini terletak di Jalan RE Martadinata. Harganya? Rp. 3000 sajah.

Rujak Kangkung dan Es Kelapa :D

Rujak Kangkung dan Es Kelapa😀

ibu pedagang merebus kangkung sebelum disiram bumbu rujak

ibu pedagang merebus kangkung sebelum disiram bumbu rujak

daaaan ini kucing lucu khas Kuningan, yang saya temukan sedang tidur sore dengan nyenyaknya.

Dadah dadah sama kucing lucu iniiii

Dadah dadah sama kucing lucu iniiii

Bersambung yaaak…karena ada satu Desa keren yang mau saya ceritain…

 

 

 

 

 

 

 

9 responses

  1. wah, ada curug putri ya. baru tau saya, padahal lahir dan gede di yellow-an😦 perlu dikunjungi juga nih si curug.
    btw, poto-potonya bagus, teh etong. ajarin teknik ngejepret dong. sayang ini lensa 55 cuma nangkring doang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s