Cita-cita [ku] Cita-cita [mu]

Foto by: Hesty Ambarwati

“Mau jadi Dokter”

“Mau jadi Guru”

“Mau jadi Pemulung aja saya bu”

“Saya mah mau jadi Supir Angkot”

“Loh…kok Pemulung sama Supir Angkot, ayo bercita-cita yang tinggi”

_______

Itu percakapan saya dengan murid-murid Sekolah Rabbani beberapa tahun silam. Ya, saat pemaknaan saya terhadap cita-cita masih sebegitunya saja. Bagi saya saat itu, menyedihkan saat mendengar murdimu ingin menjadi Pemulung ataupun Supir Angkot saja, tidak lebih.

Tapi yaaa, setelah melalui perenungan yang amat sangat panjang *hayah*, saya mencoba untuk memandang “cita-cita” dari sudut pandang yang berbeda.

Begini, lama-lama saya merasa pernyataan2 yang saya berikan itu seolah-olah membentuk “kastanisasi” profesi. Seolah-olah menjadi Presiden, Pengacara, Dokter itu lebih baik dan mulia dibandingkan menjadi Supir Angkot, Pemulung, Montir, dll. Seolah-olah “materi” yang jadi kekerenan cita-cita anak-anak kita, bukan “nilai” dan “manfaat” dibalik cita-citanya. Padahal jelas-jelas, Allah memandang hambaNya bukan dari kekayaan, profesi, dll melainkan dari keimanan dan ketaatannya. Wah, ini udah jadi peringatan bagi pernyataan saya, yang secara tidak langsung mencela profesi orang tua mereka, hufft.

Saya semakin tersadar saat membaca sebuah artikel yang di-link-an oleh teman. Tentang pernyataan seorang warga kenegaraan Finlandia. Dia bingung, kenapa kalo di Indonesia anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi Supir Bus ditertawai. Padahal, di Finlandia profesi apapun selalu dihargai, karena selalu memiliki peran dan manfaat bagi orang lain. Nah. Jadi bayangkan yaaa…klo semua anak kita ingin jadi Dokter, siapa yang mau nyetir bis menuju tujuan kita. Klo semua ingin jadi Presiden, siapa yang akan benerin mobil kita klo rusak?.

Dan, sejak kapan cita-cita identik dengan profesi? sungguh usaha menyempitkan definisi cita-cita. Teringat dialog seorang anak dalam film Cita-citaku Setinggi Tanah, “Cita-citaku ingin makan di restoran Padang” atau “Cita-citaku ingin bermanfaat bagi banyak orang”, hehhe anti mainstream sekali sodara-sodara.

Jadi kurang lebih begini sudut pandang saya tentang cita-cita:

1. Cita-cita itu bukan sekedar profesi, tapi tentang apa yang kita inginkan untuk diperjuangkan dan direalisasikan.

2. Cita-cita juga berbicara tentang “nilai” dibaliknya. Misalnya, berbeda antara orang yang ingin menjadi guru karena ingin punya uang dan menjadi guru karena ingin berbagi ilmu, mendidik dan bermanfaat bagi orang lain. Bisa jadi seorang Supir Bus yang meyakini bahwa dengan dirinya menjadi supir justru menjadi jalan untuk lebih banyak membantu orang, lebih baik dibandingkan dengan seorang Aleg yang ingin menjadi Aleg karena ingin memperkaya diri sendiri dengan korupsi.

3. Cita-cita berbeda dengan “kalah pada kondisi dan nasib”. Misalnya, seorang anak memilih menjadi Pemulung karena dengan cara seperti itu ia bisa membantu bumi dari serangan sampah. Bukan menjadi pemulung karena “da kumaha deui, ga mungkin jadi dokter mah…ga ada biaya”.

4. Sekali lagi, cita-cita bukan sekedar profesi.

5. Hargai cita-cita setiap anak, sebagai guru…arahkan mereka untuk melihat “nilai” dibalik cita-citanya, bantu mereka untuk mewujudkannya.

Tak ada cita-cita setinggi tanah ataupun setinggi langit😀. Selamat bercita-cita ^_^

Kalo saya..cita-citanya ingin berhimpun kembali bersama orang-orang yang dicintai di tempat terindah milikNya, bersama Allah😀. Caranya? beribadah, taat pada perintahNya, jauhi segala laranganNya, ikuti petunjuk RasulNya. Fokusnya? berjihad di jalan Pendidikan😀, hingga nanti muncullah peradaban yang madani kembali.

Bagaimana dengan kamu?

4 responses

  1. Sempet ngobrol dengan murid2 SD di pedalaman sumbawa deket pertambangan Newmont, hampir semua murid co nya mau jadi pemain sepak bola.
    Harus nya bisa kita temukan diantara prestasi yang lebih gemilang dari pada ronaldo, beckam dll dari sekian banyak rakyat indonesia ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s