Ekspedisi “Mengantar Kebahagiaan” [Part 2]

17 Januari 2013

Pagi-pagi yang indah bersama onggokan pisang rebus dan rengginang, yatta. Sawah yang hijau, pantulan sinar matahari yang hangat pada bulir air di dedaunan, nenek-nenek seksi yang mencuci baju di sungai dan senang saat saya foto :p. Pemandangan yang tidak ada di kota serumit Bandung apalagi Jakarta.

Nenek-nenek seksi nyuci di pinggir sungai desa Cikatomas

Nenek-nenek seksi nyuci di pinggir sungai desa Cikatomas

Dengan semangat 45 kami kembali meneruskan perjalanan menuju Desa Cikawung. Jalannya kadang halus, kadang ajrut-ajrutan. Tapi pada intinya sama, tetap bikin sakit badan…dan membuat pisang rebus tadi pagi teraduk-aduk sempurna di dalam perut.

Jalan menuju Cikawung, aspalnya sudah niat ga niat

Jalan menuju Cikawung, aspalnya sudah niat ga niat

 

MIS Cikawung berdiri berkat gotong royong masyarakat

MIS Cikawung berdiri berkat gotong royong masyarakat

Trokidz dengan suaranya yang mirip truk, datang mendekati MIS Cikawung. Seperti biasa, anak-anak melirik-lirik manis dari balik ruang kelas. Kami kembali menjadi alien keren.

Penasaran, mengintip dari balik ruang kelas. Menanti alien yang datang untuk mengantarkan kebahagiaan

Penasaran, mengintip dari balik ruang kelas. Menanti alien yang datang untuk mengantarkan kebahagiaan

Para guru mengajar di kelas2 sederhana

Para guru mengajar di kelas2 sederhana

Mengintip manis

Mengintip manis

Belajar dengan serius

Belajar dengan serius

MIS Cikawung, berdiri sejak tahun 1970 atas inisiasi warga sekitar. Bertemulah kami dengan seorang guru wanita, berbincang-bincang tentang motivasi beliau mengajar disini, “untuk bermanfaat bagi lebih banyak orang” begitu katanya.

Itu Hari si Harimau...bunyinya hauuum, anak-anak terkaget2

Itu Hari si Harimau…bunyinya hauuum, anak-anak terkaget2

Oh iya, disinilah accident banyak terjadi, hehe. Dari mulai HP terjun bebas ke kubangan, sampai buku dongeng yang terjun bebas ke lumpur😀.

Menjemur HP yang habis terjun bebas ke kubangan

Menjemur HP yang habis terjun bebas ke kubangan

Buku dongeng yang dengan suksenya jatuh ke tanah berlumpur

Buku dongeng yang dengan suksenya jatuh ke tanah berlumpur

Vivi, salah seorang tim dari Gema Pena membersihkan sisa-sisa tanah

Vivi, salah seorang tim dari Gema Pena membersihkan sisa-sisa tanah

Perjalanan dilanjutkan ke MIS Al-Barokah Desa Tawang – Pancatengah. MIS Al-Barokah baru memiliki 3 kelas. Tokoh masyarakat menginisiasi pendiriannya. Dulu, sebelum MIS Al-Barokah ada, anak-anak harus berjalan 5 km menuju MI terdekat.

Anak-anak MIS Al-Barokah sebelum sekolah disini harus berjalan 5 km ke ke sklh terdekat

Anak-anak MIS Al-Barokah sebelum sekolah disini harus berjalan 5 km ke ke sklh terdekat

Berbincang sedikit dengan Pak Asep, sang Kepsek yang usianya masih muda, 26 tahun. Beliau sangat senang dikunjungi oleh kami, semangatnya untuk memberikan pendidian yang terbaik kembali bangkit. Ia meminta kami untuk main sering-sering, berbagi ilmu tentang pendidikan.

Anak-anak MIS Al-Barokah, takjub dan serius mendengarkan dongeng

Anak-anak MIS Al-Barokah, takjub dan serius mendengarkan dongeng

Salam perpisahan untuk berjumpa kembali dengan mereka

Salam perpisahan untuk berjumpa kembali dengan mereka

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Parigi. Kaget melihat sebuah plang masjid, Parigi – Kabupaten Ciamis. Wew, ternyata ekspedisi ini sampai juga ke Ciamis. Dan bertemulah kami dengan Green Canyon yang tersohor ituuu…aaaa…warna hijau sungainya yang khas menyambut kedatangan kami. Indonesia itu indah luar biasa memang.

Membetulkan jirigen yang jatuh tertiup angin

Membetulkan jirigen yang jatuh tertiup angin

Lelap, seorang bapak pemilik perahu di Green Canyon

Lelap, seorang bapak pemilik perahu di Green Canyon

Malam ini kami menginap di Parigi, disebuah rumah sederhana milik Pa Haji Ade, pendiri Yayasan An-Nahar. Sayup-sayup debur ombak dan aroma lautan menutup hari ini.

18 Januari 2013

Pagi di Parigi yang sedikit panas. Semakin panas dengan obrolan pagi kami, bersama gorengan dan kopi. Tak jauh-jauh, berbincang tentang pendidikan. Istri Pak Haji yang cerdas, menurutnya Pengajar itu beda sama Pendidik. Guru itu tugasnya ga cuma transfer ilmu yang ada dibuku, tapi juga mendidik manusia menjadi manusia. Manusia yang kembali bermanfaat terhadap manusia oleh sebab ilmu yang ia miliki. Yap, tepat.

Mendongeng di depan anak-anak RA An-Nahar

Mendongeng di depan anak-anak RA An-Nahar

Selepas diskusi hangat tentang pendidikan, kami memulai aktivitas mengantar kebahagiaan di RA An-Nahar. Mendongeng di depan anak-anak kelebihan tenaga. RA An-Nahar adalah titik terakhir ekspedisi ini. Sedih mengakhirinya, sekaligus semangat untuk memulainya kembali😀.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri pantai selatan menuju Kota Tasikmalaya, melewati Cijulang dan daerah-daerah lainnya yang saya tidak ketahui. Mata termanjakan oleh sajian pantai yang terhampar dan samudera luas dengan deburan ombak yang besar. Ah indah, hamparan pantai ini masih begitu perawan. Terima kasih Allah, karena kebaikan-Nya pada Indonesia.

Pantai selatan entahlah apa namanya. Dikejauhan nelayan memancing ikan.

Pantai selatan entahlah apa namanya. Dikejauhan nelayan memancing ikan.

Merasakan ombak lebih dekat

Merasakan ombak lebih dekat

Menatap langit...ah indahnya

Menatap langit…ah indahnya

Pantai dan laut dari atas Karang Tawulan

Pantai dan laut dari atas Karang Tawulan

Karena kegiatan ini bibir pantai berkurang. Penambangan pasir besi.

Karena kegiatan ini bibir pantai berkurang. Penambangan pasir besi.

Yaaak. Sekian laporan perjalanan kami. Ada salam dari anak-anak bangsa disini😀

Dadaaaah

Dadaaaah

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s