Gunung Sampah di Bandung

Sampah Gerlong

Bau menyengat dari tumpukan sampah membuat warga harus menutup hidung saat melintasinya

(Bandung, 09/1/13) “Gunung sampah” bukanlah objek wisata baru di kota Bandung. Ini permasalahan lama yang kembali muncul. Gunungan sampah setinggi kurang lebih 3 meter menumpuk di depan Pasar Geger Kalong. Menurut pedagang setempat, sudah 1 bulan sampah itu tidak diangkut oleh petugas. Alasannya? mobilnya rusak dan TPA tidak mau menampung sampah. Sedangkan TPA Cicalengka yang siap menampung belum diresmikan, sehingga belum bisa difungsikan.

Membuang sampah

Seorang warga membuang sampah

Hmmm…mau ngerasain sensasi baunya tumpukan sampah ini?coba datang kemari😀. Hujan yang mengguyur Bandung hampir setiap hari, tampaknya berperan aktif menambah suasana gunungan sampah ini semakin memburuk. Belum lagi, setiap harinya warga sekitar masih berkontribusi menambah tumpukan sampah ini semakin tinggi. Klo ditata lebih rapi, mungkin tingginya sudah setara rumah dua tingkat -__-“. Ini baru dari Pasar Gerlong, kabarnya…pasar-pasar lain di Bandung mengalami masalah yang sama.

Pyuh…apa dan siapa yang jadi akar masalah ini?mau nyalahin kebijakan?mau nyalahin pemerintah yang ga becus ngurus sampah?mau nyalahin kenapa Bandung ga punya TPA yang cukup luas untuk nampung sampah warga se-Bandung raya?

Gimana klo kita berhenti sejenak dan berpikir ulang. Sampah ga mungkin hadir klo ga ada yang buat sebuah benda menjadi sampah. Siapa? manusia. Kita? manusia. Yah, kecuali kamu ngerasa bukan manusia :p. Ayolah…saya juga amat sangat merasa berdosa telah membuat dosa ini. Konsumsi bungkus nasi, sedotan, sisa makanan, botol air mineral, daaan masih banyak lagi.

Gimana solusinya? banyak orang menawarkan solusi. Salah satunya..daur ulang sampah plastik. Nah, klo bentuk sampahnya udah kaya gambar di atas, siapa yang mau mungutin plastik busuk itu untuk di daur ulang lagi?. Klo sampah organiknya di buat kompos? adakah yang bersedia memilah sampah di atas menjadi gunungan sampah organik dan an-organik?.

Lantas? Yah…selama kita masih ngandelin tukang sampah’a pemerintah…dan masih ngandelin pemerintah yang ngelola sampah kita…maka masalah seperti ini akan terus berulang. (Butuh berapa hektar tanah lagi untuk nampung sampah kita?).

Bagaimana kalo…kita bertanggungjawab sama sampah kita sendiri?.

1. Mulai memilah sampah organik dan an-organik

2. Allah sudah memberikan perangkat untuk membuat sampah organik terurai dengan sendirinya. Bisa kita timbun di tanah, atau berkorban sedikit untuk membuat kotak Takakura.

3. Sampah an-organik? ya pakai aja prinsip reuse dan recycle. Yang masih bisa dipake ya dipake…yang belum butuh diganti…ya ga usah ganti dulu…Yang bisa dibuat benda baru ya buat benda baru…kreatif sedikit lah ya. Banyak kok buku2 seni rupa yang membahas tentang pengolahan benda bekas ini.

4.  Dan yang paling penting adalaaah, hayu kita mulai untuk diet sampah an-organik. Sebisa mungkin..klo memungkinkan untuk bawa kotak makan atau kotak minum sendiri…kenapa harus ngebungkus pake plastik or kertas nasi?kenapa harus beli air mineral botol?. Klo bisa bawa kantong sendiri pas belanja..kenapa harus minta kresek?. Klo bisa ga pake sedotan kenapa harus pake sedotan?. Klo bisa ga pake styrofoam kenapa harus pake?. Agak sulit memang 100% tanpa sampah an-organik, tapiii…bukan berarti ga bisa menekan angka penggunaannya kan?.

Yaaah, itung2 ngebantu Bandung terhindar dari kemunculan Gunung Sampah yang akan menandingi tingginya Gunung Tangkuban Perahu. Selamat berusaha untuk Bandung yang lebih baik.

4 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s