Kegelapan Tanpa Kata

Ini adalah tulisan Yann Martel dibuku Life Of Pi BAB 56 halaman 234 – 235 mengenai rasa takut.

toekangpoto3

“Aku ingin mengutarakan pendapatku mengenai rasa takut.  Rasa takut adalah satu-satunya lawan sejati kehidupan. Hanya rasa takut yang dapat mengalahkan kehidupan. Dia musuh yang pintar dan licik. Aku tahu betul itu. Rasa takut sama sekali tak kenal malu, tak peduli hukum atau aturan apapun, dan tak kenal ampun. Dengan mudah dia bisa menemukan kelemahan kita yang utama, dan menyerangnya. Dan yang mula-mula diserang selalu pikiran kita. Saat kita sedang merasa tenang, yakin, bahagia, rasa takut itu menyelinap bahai mata-mata ke dalam pikiran kita, menyamar dalam selubung keraguan tipis. Pikiran kita berusaha menolak keraguan ini dengan memunculkan rasa tak percaya. Tapi dengan mudah keraguan akhirnya menang juga. Kita menjadi cemas. Tapi masih ada akal sehat untuk menolong ktia. Kita pun kembali tenang, sebab akal sehat ini dilengkapi dengan teknologi senjata-senjata mutakhir. Tapi sungguh mengherankan, meski telah menggunakan taktik-taktik yang lebih hebat dan berhasil memperoleh sejumlah kemenangan mutlak, toh akal sehat akhirnya kalah juga. Kita menjadi lemah, bimbang. Kecemasan pun berubah menjadi rasa takut.

Berikutnya, rasa takut ini menyerang raga kita sepenuhnya. Raga yang sudah sedari tadi menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Paru-paru kita sudah terbang seperti  burung, dan isi perut kita sudah merayap pergi seperti ular. Sekarang lidah kita mati kejang seperti oposum, sementara rahang kita mulai gemetaran. Telingan menjadi tuli. Otot-otot kita gemetar seperti kena malaria, dan kedua lutut kita saling berantuk seperti sedang berdansa. Jantung berdentam-dentam keras, sementara lubang anus kita terlalu kendur. Begitu pula halnya bagian tubuh yang lain. Keseluruhan tubuh kita luluh lantak dengan caranya masing-masing. Hanya mata kita yang masih berfungsi dengan baik. Mata selalu menaruh perhatian semestinya pada rasa takut.

Dengan cepat kita pun membuat keputusan tergesa-gesa. Kita sudah lupa pada faktor-faktor yang mestinya menjadi andalan terakhir, yakni harapan dan keyakinan. Nah, kita pun kalah. Rasa takut, yang sebenarnya hanya perasaan berhasil menundukkan kita.

Hal ini sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. Sebab rasa takut itu – rasa takut yang sesungguhnya, yang mengguncang kita sampai ke ulu hati, yang kita rasakan saat dihadapkan pada akhir hidup kita- akan bersarang dalam ingatan, seperti gangren. Dia membuat lain-lainnya menjadi busuk, termasuk kata-kata yang ingin kita gunakan untuk menggambarkannya. Jadi, kita mesti bersusah payah kalau hendak mengekspresikan rasa takut itu. Kita mesti berjuang keras menyuarakan kata-kata itu. Sebab jika tidak, jika rasa takut itu menjadi kegelapan tanpa kata yang berusaha kita hindari atau bahkan berhasil kita lupakan, berarti kita membuka diri terhadap lebih banyak serangan rasa takut, sebab kita tak pernah benar-benar melawan musuh yang telah mengalahkan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s