Angkat Tanganmu untuk [Pendidikan] Indonesia

Suasana Belajar di SD IT Rabbani |  Foto: Yudha P Sunandar

“Saya pernah bermimpi, bahwa suatu saat “membangun pendidikan” akan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tidak hanya ngopi di coffee shop, beli tas-tas bermerk, atau nge-dugem yang jadi gaya hidup”

Judul di atas saya ambil dari lirik lagunya Pandji Pragiwaksono yang berjudul “Untuk Indonesia”, ada yang pernah dengar?. Lagu Untuk Indonesia melalui lirik-liriknya mengajak kita untuk bertanya pada diri kita sendiri tentang “apa sih yang bisa kita kasih untuk membuat negeri ini lebih baik?”. Selanjutnya, lagu ini dipenuhi dengan lirik-lirik ajakan yang berbunyi “Angkat Tanganmu untuk Indonesia”. Angkat tangan bukan berarti menyerah loh ya, tapi ajakan untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia.

Pada curcol (baca: curhat colongan) kali ini, saya sisipkan kata “pendidikan” pada penggalan lirik tersebut, menjadi “Angkat Tanganmu untuk [pendidikan] Indonesia”. Ini tentang berbagi peran dalam membenahi pendidikan bangsa.

Ok, pernah ga kamu terjebak dalam forum kajian yang konon membahas tentang “bagaimana memajukan pendidikan Indonesia” namun berakhir menjadi forum “mencela pendidikan Indonesia” dan “siapa pelaku dibalik masalah ini?”. Kajian-kajian tersebut lalu berhenti hanya pada eksplorasi masalah, jarang berlanjut pada bahasan tentang solusi dan lebih jarang lagi berlanjut pada tindakan nyata untuk membenahi masalah-masalah tersebut. Saya pikir, kajian-kajian seperti itu sudah saatnya dihilangkan dari muka bumi tercinta ini jika ingin ada perubahan. Sepakat?

Seringnya, kita dengan mudah menyebutkan puluhan bahkan ratusan permasalahan pendidikan Indonesia. Sedihnya, kita sering kesulitan menyebutkan apa solusi yang dapat dilakukan untuk benahi permasalahan tersebut. Ironisnya, kita sering mentok jika ditantang untuk bertindak membenahi permasalahan tersebut.

Angkat tanganmu untuk pendidikan Indonesia. Saatnya kita beralih dari kata menuju karya nyata. Saya pernah bermimpi, bahwa suatu saat “membangun pendidikan” akan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tidak hanya ngopi di coffee shop, beli tas-tas bermerk, atau nge-dugem yang jadi gaya hidup.

Saya terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di SD IT Rabbani – Bandung, mereka membangun sekolah dengan konsep gotong royong. Jelasnya begini, posisi kepala sekolah dipegang oleh mahasiswa, tiga guru tetap dipegang oleh penduduk sekitar, empat guru lainnya dipegang oleh volunteer dari berbagai latar belakang profesi yang menyempatkan 1-2 jam/minggunya untuk turun tangan. Tidak hanya individu yang terlibat, komunitas-komunitas juga ikut gotong royong membangun sekolah ini. Sebagai contoh: Bandung Berkebun yang mengajarkan tentang asyiknya berkebun ke anak-anak, ToekangPoto yang mengajarkan serunya menjadi fotografer, KPK yang mengajarkan tentang nilai-nilai integritas, MMI (Masyarakat Mandiri Informasi) yang terus memberitakan kegiatan gotong royong ini melalui social media, Gerakan Kakak Asuh (GKA) yang melakukan gerakan donasi untuk mensupport biaya operasional sekolah gratis ini dan masih banyak komunitas lainnya.

Nah, menurut saya, membangun pendidikan itu mudah, ga selamanya harus menjadi guru tetap di pelosok, punya sekolah sendiri atau jadi Menteri Pendidikan.  Dua peran yang bisa kita ambil untuk membangun pendidikan, menjadi guru atau supporting.

Peran pertama: Menjadi guru. Menjadi guru itu mudah, jika kita memandangnya bukan sebagai profesi melainkan sebagai tanggungjawab yang melekat dalam diri setiap manusia. Ok, gimana caranya? Bisa wakafkan 1 – 2 jam setiap minggu untuk datang ke sekolah untuk tebar inspirasi dan mimpi pada anak-anak didik kita. Terus klo saya hidup di negeri nun jauh disana? Gampang, kirimi surat-surat motivasi kepada adik-adik kita di sekolah agar tak lelah untuk terus bermimpi dan terus berusaha untuk merealisasikannya.  Mudah kan?

Peran kedua: Menjadi Supporting. Caranya? Untuk kamu yang kaya raya dan kaya hati, sedikit atau sebagian dari hartamu boleh kok diinvestasikan untuk membangun pendidikan. Untuk kamu yang mengaku empunya pendidikan (DR atau professor di bidang pendidikan) bisa ajarkan pengelola sekolah tentang bagaimana memanage dan mengembangkan pendidikan yang baik itu, atau adakan pelatihan-pelatihan bagi guru di sekolah-sekolah dengan biaya yang terjangkau. Untuk kamu yang profesinya sebagai jurnalis (media konvensional ataupun social media), ayo kabarkan tentang usaha-usaha yang sedang dilakukan dalam membangun pendidikan, jadikan isu pendidikan sebagai topik utama pemberitaan negeri ini. Untuk kamu yang bergerak di bidang riset (teknologi terapan) boleh kok menerapkan teknologi itu di sekolah-sekolah, agar guru, murid dan masyarakat mampu belajar. Untuk kamu yang arsitek dan orang-orang Teknik Sipil, boleh kok bantu bangunkan ruang-ruang belajar yang “pas” untuk pembelajaran atau bangunkan jalan serta jembatan agar anak-anak dan guru tidak lagi kesulitan datang ke sekolah. Ya, yang saya sebutkan di atas hanya sebagian kecil dari banyak hal yang bisa kita dan kamu lakukan untuk menyokong pembenahan pendidikan Indonesia.

Bukankah mendidik adalah tugas setiap orang terdidik?. Ayo, ambil peranmu untuk membangun pendidikan Indonesia. Esok atau lusa, jika membangun pendidikan bisa menjadi gaya hidup setiap warga Indonesia, perlahan tapi pasti pendidikan kita akan semakin dan semakin baik. Selamat berkontribusi .

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Indonesia Berkibar 2012*

2 responses

  1. postingannya inspiratif, salam kenal teh hesty ambarwaty, saya Muhammad Insan kamil, punya mimpi untuk buat Alif Indonesia, sebuah community development dalam bidang pendidikan, ada beberapa mimpi tentang sistem pendidikan yang lebih imajinatif, sasarannya kaum marjinal yang tidak memiliki kesempatan untuk sekolah. saya berharap ada follow up untuk tukar pikiran dan memanifestasikannya. ini email saya, kamil.muhammadinsan@mail.com, nuhun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s