Komunitas School Ranger [Bag 2]

Sekolah Mandiri

Volunteer Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar, masyarakat yang peduli pendidikan Indonesia | Sumber: Hesty Ambarwati

Bayangan saya tentang Sekolah Mandiri

Sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang sekolah mandiri dan potensinya dalam membangun serta meratakan pendidikan berkualitas di Indonesia, baiknya kita baca dulu berita yang berjudul “Sekolah Gratis Swadaya Masyarakat”

Ok, konon kabarnya Indonesia sudah tuntas melaksanakan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di tahun 2009. Angka Partisipasi Kasar (APK) siswa SMP menunjukkan  lebih  dari 90%. Namun ironisnya, ditengah prestasi tersebut masih saja ada foto seperti ini:

Lebak – Sumber: TribunNews.com

atau seperti ini:

Sumber: maarif-nu.or.id

Setidaknya untuk mencapai APK membanggakan itu banyak anak bangsa menempuh jalannya yang berbahaya. Belum lagi saat saya mendengar cerita dari beberapa teman Pengajar Muda – Indonesia Mengajar tentang kondisi pendidikan di pelosok sana, dari mulai fasilitas yang tak memadai hingga kekurangan guru. Banyak cerita yang membuat kita harus tergerak dan bergerak membenahi semua itu.

Saya begitu senang dengan kata-kata ini: “Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan”. Sederhana saja, lakukan yang paling bisa kita lakukan, tidak apa-apa kita mulai dari lilin.Tenaga yang kita miliki tampaknya tidak perlu dihabiskan untuk mengkritisi permasalahan atau saling tuding tentang “siapa yang pantas bertanggungjawab atas permasalahan ini”. Lebih mudah jika kita mulai sadar bahwa “membangun sekaligus meratakan  pendidikan yang berkualitas adalah tugas kita semua, bangsa Indonesia”.

Kita adalah bangsa yang kuat dengan karakter gotong royongnya (setidaknya begitulah kata guru PPKN saya dulu di SD). Jika saja gotong royong juga dilakukan untuk membangun pendidikan, pasti gambaran-gambaran tentang suramnya dunia pendidikan kita akan segera berganti menjadi gambaran-gambaran yang indah.

Sekolah Mandiri dengan Potensinya yang Luar Biasa

Nah, sekarang mari kita telaah tentang sekolah mandiri (yang gambaran sederhananya tercermin dalam artikel di atas). Oh iya, kata kunci dari sekolah mandiri adalah: DARI, OLEH dan UNTUK Masyarakat. Yup, saatnya masyarakat merasa memiliki dan  bertanggungjawab untuk membangun pendidikan.

Kasus 1. Akses yang sulit untuk menjangkau sekolah

Di pelosok, jarak antara desa-desa dan sekolah formal (biasanya negeri) cukup jauh. Akses yang terbatas menambah jarak tersebut. Kenapa tidak setiap desa berinisiatif untuk membentuk sebuah sekolah satu atap (SD – SMP – SMA / MI – MTS -MA) sendiri untuk mendekatkan jarak tempuh tersebut. Pertanyaannya, perlukah membentuk yayasan? jika membentuk yayasan adalah rumit maka bangun saja sekolahnya (tidak dalam arti fisik ya..) urusan Ujian Nasional, NISN dan segala hal tentangnya tinggal menginduk saja ke sekolah inti yang jaraknya jauh itu.

Kasus 2. Kekurangan Guru

Ingatkah kata-kata Pa Anies Baswedan? bahwa “Mendidik adalah Tugas Setiap Orang Terdidik”. Mungkinkah jika gerakan serupa Indonesia Mengajar dimotori oleh seluru daerah di Indonesia. Tidak apa-apa diawali dengan gebrakan pemuda, selanjutnya ajak masyarakat setempat untuk mulai menjadi pendidik juga. Ini terjadi loh di SD IT Rabbani, mahasiswa datang untuk bangun kembali sekolah yang hampir tutup itu, ajak warga setempat untuk ikut mengajar dan voila, mereka menjadi guru tetap hingga hari ini. Saya pun tidak perlu mengemis pada pemerintah untuk mengirimkan PNS-nya datang. Sekolah kami sudah mampu memenuhi kebutuhan gurunya sendiri. Bagaimana dengan kompetensi guru? yakinkah kompetensi unggul datang dari orang-orang berpendidikan tinggi atau bersertifikasi? belum tentu, karena menurut saya kompetensi unggul ditambah militansi serta ketulusan datang dari orang-orang yang sadar dengan tugasnya untuk mendidik anak bangsa.

Kasus 3. Pendanaan

Inilah yang senantiasa menjadi momok banyak orang untuk berbuat sesuatu. Sederhana, sekolah cukup membuat usaha-usaha yang dijalankan oleh masyarakat sekitar ataupun guru. Hasilnya? gunakan kembali untuk keperluan sekolah. Masyarakat dan guru terbedayakan – kesejahteraan ekonomi (insya Allah) meningkat – sekolah kuat dengan pendanaannya dan tetap terjangkau dalam pembiayaan. Inilah prinsip : “Membangun sekolah kemudian sekolah membangun masyarakat”. Selain itu CSR perusahaan atau gerakan-gerakan donasi pendidikan juga potensial untuk membiayai hal ini, sebagai contoh Rumah Zakat yang sukses dengan Sekolah Juaranya, hidup dan besar dari Zakat Muslim Indonesia.  Akhirnya sekolah mandiri bisa juga mandiri secara financial tidak perlu meratapi BOS yang tak kunjung cair, atau sekalipun cair harus rela dipangkas oleh preman. 

Yah itulah bayangan saya tentang betapa potensialnya sekolah mandiri untuk meratakan dan membangun pendidikan berkualitas bagi anak-anak Indonesia (khususnya dari ekonomi lemah).

Hehehe…untuk mewujudkannya pasti butuh kerja-kerja keras dan cerdas. Alhamdulillah jika kesadaran muncul dari masyarakat daerahnya sendiri seperti yang diceritakan dalam artikel tersebut, lah kalo yang ga sadar gimana dong? itulah fungsinya School Ranger sebagai inkubator sekolah mandiri di Indonesia. Huaaa mimpi yang sedikit horor ya? tapi tenang semoga semuanya berujung nyata. So, school ranger masih membutuhkan banyaaaak penggerak dalam perjuangan panjang ini, karena ini perjuangan kolektif jenderaaal.

So, you are young and you must care :p (bener ga tuh bahasa Inggrisnya)? dari tulisan ini, mari melangkah dengan Bismillahirahmanirahim.**

-Pojok Kosan Tuti, 02:01, 18 Juli 2012-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s