Di Persimpangan Kanan Jalan

Di persimpangan kanan jalan. Syndrome yang mungkin biasa dialami oleh mahasiswa yang akan melepas status kemahasiswaannya. Begitupun saya beberapa waktu belakangan. Hampir mual saya berpikir dan merenung tentang “gambaran hidup” saya pasca sidang ini. Bingung, tepat seperti kalimat ini: Di Persimpangan Kanan Jalan. Lintasan-lintasan mimpi, passion, idealisme, realita, dan konsep-konsep diantaranya bercampur menjadi satu. Belum tergambar petanya. Banyak ketakutan menghadapi hidup yang nyata di dunia yang fana datang silih berganti. Ah, seperti tak punya Allah saja.

Di persimpangan kanan jalan. Saya merenung, atas jejak-jejak yang pernah saya tinggalkan. Atas mimpi yang masih terus diperjuangkan, dengan kondisinya yang belum sempurna. Atas pergulatan antara mengabdi atau ego semata. Atas kebutuhan saya akan penopang kehidupan. Argh…

Melihat deretan kolom job vacany di koran-koran, di website-website, di job fair-job fair. Kemudian, saat kaki sedikit melangkah, tawa anak-anak di sekolah itu kembali terlintas. Seketika menjelma menjadi deretan foto penuh senyum anak kecil dari sebuah desa bernama Cimenyan. Kembali, tawaran datang silih berganti, dengan bilangan-bilangan rupiah yang membanggakan. Dan wajah guru-guru yang pernah saya jebak di sekolah itu melintas dalam pikiran, mengetuk pintu hati. Tak tanggung-tanggung mereka juga membawa deretan harap dan mimpi anak-anak juga mimpi mereka sendiri. Ini tamparan. Inilah konsekwensi yang amat sangat terkutuk. Kerja dan tinggalkan mereka. Tak bisakah keduanya?

Dahulu kala, saya pernah begitu bersyukurnya pada sang Khaliq, atas mimpi yang didatangkan begitu cepat. Namun di persimpangan jalan ini, kelebatan-kelebatan nakal pikiran saya berlompatan tak karuan. “Tinggalkan…tinggalkan sajalah…kamu juga punya kehidupan”.  Ini ujian.

Argh…

Inilah saya, berhenti sejenak mengeja makna M.E.R.D.E.K.A. Untuk apa saya hidup? sekilas, kata-kata Hugo dalam film Hugo Cabret terlintas “Mesin diciptakan pasti punya tujuan, begitupun manusia. Mesin rusak jika tidak punya tujuan, begitupun manusia, rusak saat tak punya tujuan hidup”.  Dan,  beberapa kata  yang pernah terlontar kepada mereka yang konon mencari inspirasi, dari saya yang juga bingung pada hidupnya sendiri.  Tentang Soekarno dan Hatta, yang meninggalkan seluruh kenikmatan dan kesempatan hidup lebih baik, untuk berjuang mengantarkan Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaannya.  Ah, ini tamparan.

Dan lagi, inilah saya yang tiba-tiba di berikan petuah oleh seseorang:

“Udah pernah baca blogku tentang Membangun Desa dengan Kekuatan Cinta?”, nah si kades ini pernah bilang klo tuannya itu adalah Allah SWT, jadi yang gaji dia pun Allah. Jadi ga khawatir klo ga punya uang, karena Allah punya rezeki yang lebih baik, ngerti kan maksudku?”

Menurut saya, itulah M.E.R.D.E.K.A. Tak takut ia jalani hidup, karena Allah ada bersamanya. Tak perlu ia gadaikan mimpi ataupun integritasnya demi sekarung Rupiah.

Begitukah hidup yang akan saya gambarkan?Semoga ini mudah, atau setidaknya saya tetap sanggup menjalaninya dengan bimbingan Sang Penggenggam Alam Semesta beserta isinya, Penggenggam Rahmat, Penggenggam Hidup. Sutradara dan Pembuat Skenario terbaik. Semoga.

SD IT Rabbani, tadaima. Ada konsep yang tertulis di lembar laptop itu. Ada konsep yang menagih direalisasikan. Untuk fasilitasi mimpi kalian, mimpi saya juga, mimpi kami. Bismillahirrahamanirrahim.

Selamat datang dunia. Selamat datang ujian di setiap akhir pembelajaran. Selamat datang, ya selamat datang. Ingatkah? Allah selalu punya alasan untukmu tetap di sana, perjuangkan mimpi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s