Didik Mereka dengan Mimpi dan Optimisme

Image

Foto by: me

Hidup akan lebih bermakna saat diwarnai dengan mimpi, dengan cita-cita dan segala perjuangan untuk menjadikannya nyata. Begitu pentingnya mimpi dan usaha untuk mencapainya mulai menjadi sorotan, tercermin dari buku-buku, dan film-film yang bercerita tentangnya. Sebut saja Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Negeri 5 Menara, dan lain-lain. Beberapa dari kita sudah mulai sadar betapa pentingnya mimpi ditanamkan pada anak-anak kita, sehingga muncullah program #Kelas Inspirasi yang diprakarsai oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Menebar mimpi dan asa pada anak-anak bangsa, agar hidupnya semakin berwarna.

Idealnya, setiap anak bangsa diajak untuk menentukan dan menyusun mimpi dalam hidupnya. Oleh siapa? Orang tua, guru, media, dan lain-lain. Kenapa mereka? Merekalah yang paling tinggi bersinggungan dalam kehidupan seorang anak, dan paling mungkin menanamkan mimpi-mimpi pada diri sang anak.

Image

Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar

Apakah anak-anak ekonomi lemah berhak bermimpi? Jawabannya adalah Ya. Mereka pun manusia punya hak untuk menyusun hidup sebaik-baiknya. Namun 2 tahun hidup bersama anak-anak ekonomi menengah ke bawah membuat saya miris. Hidupnya terlalu realistis sebelum waktunya, jiwa pesimisme tumbuh subur dalam dirinya. “Saya orang Miskin maka Saya Tidak Mungkin Bermimpi” seperti sebuah kondisi yang tak mungkin diubah.

Orang tua dan guru memiliki peran yang sangat penting untuk menghancurkan paradigma seperti itu, atau malah menumbuhkannya?.

Beberapa anak saya ajak  berdiskusi tentang mimpi dan cita-cita. Saat ditanya tentang mimpi hidupnya, jawabannya beragam, ada yang melambung tinggi ada juga yang terlampau sederhana, ada yang ingin jadi Presiden atau sekedar pemulung sampah. Saat ada anak yang memiliki mimpi menjadi hansip, pemulung sampah atau supir taksi, mereka menjawab bahwa itu adalah profesi yang “keren” menurut mereka.  Saat saya tanya tentang, mau kuliah? Mereka hanya menjawab dengan senyum terkulum sambil berkata “mahal bu, ga mungkin kan saya orang miskin mana mungkin ada uang”. Kuliah memang bukan kewajiban,  memilih tidak kuliah karena pilihan itu wajar, yang tidak wajar adalah tidak kuliah karena keadaan.

Kondisi seperti yang saya sebutkan di atas sangat mungkin muncul dari “doktrin” orang tua. Saat anaknya berkata saya mau jadi A, mau jadi B, mau jalan-jalan ke luar negeri, orang tua dengan sigap berkata “udah, ga mungkin kita ga punya uang, mending kamu bantu-bantu orang tua cari uang”. Kalimat yang terus menerus diucapkan,  terafirmasi sempurna pada jiwa besar sang anak, sehingga menyadari betul bahwa mereka miskin dan tidak punya masa depan. Atau saat di sekolah, seringkali saya mendengar banyak guru berteriak pada anaknya yang nakal dan miskin: “Udah Nakal, Bodoh, Miskin pula, ga punya masa depan kamu” atau “Udah, ketinggian cita-cita kamu itu ga usah mimpi yang muluk-muluk”. Ok, berharap saja bahwa mereka hanyalah oknum perampas mimpi anak-anak bangsa, dan berdoalah mereka segera sadar untuk tidak seperti itu lagi.

Sekali lagi, bahwa mimpi adalah hak setiap anak bangsa. Tugas kita tidak sekedar menanamkannya tapi juga memelihara dan terus menumbuhkannya. Untuk kalian yang hari ini berprofesi sebagai guru atau orang tua, didik mereka dengan bahasa optimisme bahwa mimpinya pasti terwujud nyata. Jangan renggut mimpi-mimpi mereka karena kata-kata beraroma pesimisme yang kita teriakkan padanya. Selamat merangkaikan mimpi pada anak bangsa😀.

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Competition Indonesia Berkibar 2012*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s