[Kopi] Ada Ilmu di setiap biji kopi dan teguknya

Kapan jatuh cinta pertama kali? Saya akan jawab ga tau😀. Tapi klo ditanya, kapan jatuh cinta  sama kopi untuk pertama kalinya? Saya akan jawab di tahun 2011 pasca seminar skripsi tahap 1, kapan tepatnya saya juga lupa hahhaa. Jatuh cinta pada rasa dan aroma yang muncul dari sebuah kopi espresso-nya Bandar Kopi. Dan setelahnya, saya mulai menikmati masa-masa mencicipi kopi dari satu kedai kopi ke kedai lainnya (walaupun masih di kota Bandung).  Kedai kopi seperti apa? Ya kedai kopi yang unik, yang tidak menjual segelas kopi ABC dengan harga Rp. 10.000,00.  Mulai dari kopi Indonesia yang dibrewing dengan gaya Italiano ataupun kopi khas Indonesia yang asli Indonesia. Dibandingkan dengan @peminumkopi atau pemilik blog Cikopi.com pengalaman saya jauh di bawah mereka, bisa dibilang masih anak bawang lah ya.

Image

Menjadi polos disetiap kedai kopi yang saya kunjungi itu: INDAH. Bertanya a-z tentang kopi yang mereka pakai, tentang cara brewingnya, sampai filosofi dari kopi dan kedai kopi mereka. Ada barista yang mampu memberikan informasi yang saya inginkan ada juga yang hanya bilang: “maaf mba kurang tahu”. Arrgggh….tidak seperti orang lain yang menjadikan ritual minum kopi sebagai hanya minum kopi, atau minum kopi sambil ngerjain skripsi di kedai kopi hanya karena butuh suasana bertapa, saya butuh ilmu tentangnya.

Ya, sesuai niat awal saya kenapa nyemplung di dunia yang maskulin ini (maklum kopi selalu dilekatkan pada pria), yaitu mempelajari tentang kopi. So, setiap saya berkunjung ke kedai kopi maka harus ada ilmu baru yang saya dapatkan. Agak sedih saat berkunjung ke sebuah kedai kopi, jika rasa ingin tahu saya tentang jenis kopi yang mereka gunakan atau bagaimana menyeduhnya , kemudian dijawab dengan “maaf saya tidak tahu”, ah serasa rugi mengeluarkan uang belasan sampai puluhan ribu untuk secangkir kopi dan kata “tidak tahu”.

Semakin jauh saya berteman dengan kopi, semakin dalam rasa ingin tahu saya tentang biji-biji unik ini. Setiap prosesnya adalah ilmu yang sangat berharga. Bayangkan, Indonesia memiliki variant kopi yang sangaaat beragam, dari mulai Kopi Aceh, Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Lintong, Kopi Medan, Kopi Lampung, Kopi Bengkulu/Curup, Kopi Jawa, Kopi Papua, Kopi Toraja, Kopi Bali, dan kopi-kopi lainnya yang jika ditanam di tanah dan tempat yang berbeda akan menimbulkan rasa yang berbeda. Mereka semua memiliki rasa, dan aroma khasnya masing-masing. Contoh Kopi Toraja, aromanya unik khas ikan, kenapa? Apakah dia ditanam di sebelah empang?ga mungkin kan…hahahha, Saya masih belum menemukan jawabannya.

Lanjut ke kebingungan saya selanjutnya, tentang kebiasaan minum kopi masyarakat daerah tertentu di penjuru Indonesia. Tentang filosofi minum kopi ala mereka. Tentang bagaimana menyeduh kopi ala masyarakat Indonesia di daerah-daerah penghasil kopi itu. Tentang bagaimana mengolah biji kopi hingga siap minum. Tentang apa bedanya espresso, macchiato, dan café au lait alias latte. Tentang bagaimana masyarakat Italy memandang kopi. Dan sesekali saya juga ingin berada di balik alat-alat penyeduh kopi itu, meracik kopi buatan sendiri untuk diri sendiri, haha.

BTW, saya mendadak ingat pada sebuah komik Jepang berjudul: BARISTA. Menceritakan tentang seorang barista asal Jepang yang sudah melanglang buana di jagad perkopian Italy, ia bernama Koui Aoi. Kecintaannya pada kopi membuat ia menjadi seorang barista yang luar biasa. Tidak hanya mampu membuat kopi yang enak, tapi juga mampu membuat kopi yang “menentramkan”. Baginya, menjadi barista adalah menjadi teman bagi setiap orang yang minum kopi di kedainya. Begitulah kedai-kedai kopi di Italy menggambarkan kondisi dan suasananya. Seorang barista tidak hanya dituntut mumpuni dalam meracik kopi, ia juga harus tahu betul jalan-jalan di Italy, sampai tempat makan yang enak di Negara penggila kopi itu. Kenapa? Karena kedai kopi adalah tempat orang-orang berkumpul dan bersosialisasi, mereka bisa bercerita atau bertanya apapun kepada sang barista, lebay-nya kedai kopi adalah rumah kedua bagi mereka.

Image

Komik Barista

So, besar harapan saya terhadap kedai-kedai kopi di Indonesia untuk membekali barista ataupun sang waiter dengan pengetahun ke-kopi-an. Setidaknya saat saya bertanya ini itu perihal kopi,  mereka bisa menjawabnya seperti Wikipedia menjawab semuanya :p. Atau minimal, sediakan 1 rak buku berisi buku-buku yang bertuliskan ilmu tentang kopi. Dan lebih baik lagi, sediakan seorang barista yang sangat baik hati berbagi apapun tentang ilmu perkopiannya pada kami yang haus ilmu bukan sekedar haus tenggorokannya. Sehingga saya bisa dengan ringan hati membeli kopi dan ilmu di kedai tersebut.  Sekian, jayalah kopi nusantara!.

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s