#Kelas Inspirasi Part 1 – Jaga Anak Bangsa Tetap Terinspirasi

Image

Kelas Inspirasi

Rabu, 25 April 2012 secara resmi maupun tidak akhirnya ditetapkan menjadi Hari Inspirasi, karena pada hari itu 200 professional volunteer turun tangan untuk tebar inspirasi di 25 Sekolah Dasar Negeri di penjuru Jakarta. Program unik dan luar biasa yang digagas oleh Gerakan Indonesia Mengajar ini bernama #Kelas Inspirasi.

Menjaring 200 professional volunteer dari berbagai macam jenis pekerjaan dan jabatan adalah prestasi luar biasa. Prestasi bagi panitia #Kelas Inspirasi sekaligus prestasi untuk bangsa ini. Ya, setidaknya masih ada 200-an orang yang peduli pada pendidikan anak-anak bangsa, berani turun tangan dan rela cuti dari pekerjaannya untuk masuk ke kelas pada hari itu. Saat melihat daftar 200-an pengajar, tidak main-main nama-nama yang terpampang, dari mulai Sandrina Malakiano, Najwa Shihab, Rene CC, sampai Cholil vokalis Efek Rumah Kaca ikut berkontribusi dalam #Kelas Inspirasi.

25 April ini, walaupun belum diberi kesempatan untuk bergabung bersama tim professional volunteer, karena ternyata panitia tidak menerima profesi saya sebagai mahasiswa :p, tapi saya masih diberi kesempatan untuk menjadi relawan fotografer bagi #Kelas Inspirasi. Sebuah kehormatan mengabadikan moment ini, bergabung dan menyerap ilmu serta inspirasi sebanyak-banyaknya dari para professional volunteer.

Dan inilah saya, ditempatkan di SDN Tomang 11 Pagi bersama kelompok 22. 23 April menjadi pertemuan perdana saya bersama kelompok ini, sejenis kopdar yang dinamakan briefing. Bertempat di “the two towers” alias gedung Bursa Efek Indonesia kami berkumpul malam itu. Setelah dengan suksesnya salah kostum, tapi akhirnya saya berhasil juga sampai di kantor World Bank dengan selamat sentosa. Untuk pertama kalinya, hari itu saya bertemu dengan Mas Unggul (World Bank), Kang Aaron (Pengusaha Bijih Besi), Kang Rifandi (Garuda Maintenance Facility AeroAsia), Mbak Noveleta Dinar (Lawyer di DNC), Mbak Dhany Wardana (Fotografer sekaligus pemilik Budhi Ipoeng School of Photography), dan Bang Arshad Idrus (Tenaga Ahli DPR RI), seharusnya ada satu lagi personil kelompok 22, yaitu Mbak Tussie (Chief Editor Cita Cinta Magazine) tapi sayang beliau berhalangan hadir di briefing sore itu.

Pertemuan pertama yang menyenangkan, orang-orang humble dan luar biasa yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan. Pada sesi perkenalan, masing-masing mereka menceritakan alasannya kenapa ikut #Kelas Inspirasi, hampir semuanya dengan sadar ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Saya sedikit malu dan miris, melihat mereka yang notabenenya tidak memiliki background sebagai orang-orang pendidikan memiliki kepedulian yang sebegitunya pada dunia pendidikan. Namun, disebuah kampus pendidikan bernama UPI jarang saya temui orang-orang dengan semangat seperti mereka, dengan pengorbanan seperti mereka.

Ekspresi grogi dan bingung tampak sekali dimasing-masing wajah mereka. “Saya biasa kasih kuliah ke mahasiswa, bukan anak SD”, “Duh saya bingung mau ngapain buat ngehadapin anak-anak SD, belum berpengalaman”, “udah pembukaannya satu jam aja yaaa..”, dan berbagai macam celetukan lainnya yang semakin nyata menyatakan bahwa mereka dalam kondisi nervous tingkat dewa. Saya hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah mereka. Antara konyol dan kagum, kagum karena mereka berani “nyemplung” di dunia yang belum pernah mereka geluti. Saya bisa membayangkan perasaan mereka. Terbiasa menggunakan bahasa yang “sulit” untuk kalangan yang “sulit” adalah sulit saat harus berbicara kepada anak-anak SD yang polos dan kelebihan tenaga, bercerita tentang profesi mereka yang “sulit”. Dan bayangkan, mereka akan berbicara di depan kelas yang berisi 40 siswa kelebihan tenaga. Salute for them. Saya saja yang sudah 2 tahun berjibaku dengan anak-anak masih suka mati gaya di depan mereka yang tingkah dan celetukannya serba tidak terprediksi itu.

25 April 2012 di #Kelas Inspirasi, SDN Tomang 11 & 14 Pagi

Pukul 07.00 kami mulai berkumpul di sekolah ini, sekolah dengan bangunan yang cukup layak untuk sebuah proses pembelajaran. Ada yang datang dengan wajahnya yang lelah karena baru pulang kerja pukul 03.00 pagi, ditambah PR kelompok: “membuat pesawat kertas berisikan kata-kata motivasi” yang akan kita terbangkan di pembukaan #Kelas Inspirasi. Semburat senyum masih dihadirkan untuk menyapa teman sekelompok, dan anak-anak bangsa, walau lelah.

Image

Mba Dinar berbicara tentang profesinya sebagai Lawyer

Pukul 08.00 upacara pembukaan dimulai. Seluruh siswa kelas 4,5 dan 6 SDN Tomang 11 serta 14 Pagi dikumpulkan di lapangan upacara. MC kita pagi ini adalah Mbak Dhanny, dengan semangat ia menyapa anak-anak bangsa dengan “Haiiii, hello, haii, hello” (ini pasti bekal dari briefing #Kelas Inspirasi..hahha), sekejap anak-anak menjawab dengan “Hello,,haiii, hello, haiii” sambil bertanya-tanya bingung, “siapa mereka, mau apa mereka”. Pada menit kesekian, satu pesawat kertas terbang membaur ke dalam barisan anak-anak, diikuti dengan puluhan pesawat kertas lainnya. Dan, diluar prediksi anak-anak pun chaos (hahhahaha) berebut pesawat kertas. Anak yang beruntung mendapatkan pesawat kertas dengan sigap membaca pesan didalamnya, “Jujur itu Hebat”, dan lain-lain.

Pukul 08.30 #Kelas Inspirasi dimulai. Masing-masing volunteer mulai beranjak menuju kelasnya masing-masing. Anak-anak ramai bertanya “ibu siapa? Dari mana? Mau nyuntik kita ya?”, haha tampaknya sekolah ini jarang didatangi orang baru, kalaupun ada orang baru maka bisa dipastikan mereka adalah orang-orang Puskesmas yang bertugas memberikan vaksin pada anak-anak polos ini.

Riuh dimasing-masing kelas para volunteer, tandanya ini kelas aktif atau terlampau aktif?. Sesekali khidmat saat mendengarkan volunteer bercerita tentang siapa dan apa mereka, tentang pengalaman mereka berkeliling dunia, tentang pengalaman mereka membetulkan pesawat, dan cerita lainnya. Dalam hati saya bertanya, mereka takjub atau tidak dapat membayangkan cerita-cerita itu?.

Image

Pa Unggul berbicara tentang dunia

“Ayo kalian juga bisa kok keliling dunia”, dan riuh saling menimpali “kamu tuh anak tukang bajaj, ga mungkin keliling dunia”. Pesimisme akut, penyakit khas anak-anak ekonomi lemah. Gejala yang terlalu sering saya jumpai saat ngobrol dengan mereka di sekolah manapun. Penyakit yang mungkin diperparah oleh lingkungannya (untuk hal ini tampaknya akan saya ulas secara khusus).

Tampaknya mimpi tidak diizinkan tumbuh subur dibenak mereka. Saya sering menamakan kondisi mereka dengan “berpikir terlalu realistis melampaui usianya” . Bersyukur #Kelas Inspirasi hadir hari itu, setidaknya ia bisa menjadi setitik obat bagi penyakit akut ini.

Saat ditanya, “Apa cita-cita kalian?”. Mayoritas menjawab, “Dokter, Guru, Pemain Sepak Bola” sangat terbatas. Tampaknya anak-anak polos ini memang terbatas referensinya terhadap jenis-jenis profesi lainnya. Sama seperti anak-anak didik saya di SD IT Rabbani. Bahkan saat berdiskusi dengan Ibu Kepala Sekolah yang sederhana itu, ia bercerita bahwa orientasi anak didiknya untuk bercita-cita masih rendah, rata-rata hanya ingin menjadi hansip ataupun boncos (pemulung sampah). Faktor penyebabnya, bisa jadi keterbatasan anak-anak pada referensi jenis profesi yang lebih beragam, sehingga sumber “inspirasi” mereka adalah orang-orang terdekatnya yang notabene berprofesi seperti itu. Ya, ambang batas “kekerenan” versi mereka adalah hanya seperti itu. Mereka tidak tahu apa itu CEO, PR, Fotografer, Dietitian, Analyst, dan lain-lain karena akses mereka terhadap profesi tersebut memang tidak ada. Sekali lagi saya bersyukur #Kelas Inspirasi hadir hari itu, sehingga ia bisa menjadi setitik inspirasi bagi anak-anak bangsa untuk berani bermimpi “lebih”.

Ada yang unik pada celetukan salah satu anak bangsa di kelas mbak Dinar.
“Ibu, aku mau jadi pengacara” teriaknya.
“Kenapa?”
“Biar bisa ngebela orang-orang yang benar” ujar sang anak

Ini dia, ciri khas anak-anak: “idealisme yang tinggi”. Jadi, ga selamanya idealisme itu punya mahasiswa. Idealisme sesungguhnya justru muncul dari hati anak-anak polos ini. Tugas orang dewasalah untuk tetap memeliharanya abadi di hati-hati calon pemimpin bangsa. Sekali lagi, memeliharanya tetap abadi.
Unik lainnya adalah, wajah yang tampak melelah muncul dari professional volunteer. Wajar saja, masing-masing volunteer mengajar 3 kelas dengan jumlah penduduk 40 siswa. Panas, tenggorokan kering, pusing, keringetan adalah gejala yang sangat wajar terjadi. Satu hikmah lagi yang saya dapatkan. 200 jempol untuk guru SD Indonesia, mengajar dengan jumlah 40 siswa adalah pekerjaan yang berat. Belum lagi dengan segala tuntutan pedagogisnya. Guru harus menguasai kelas, memahami karakter masing-masing siswa, berperan sebagai konselor bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan tidak hanya dalam belajar tapi juga dalam ekonomi ataupun masalah keluarga, merancang rencana pembelajaran, menyampaikannya dengan berbagai macam metode yang efektif agar siswa memahami, memberikan evaluasi, belum lagi menyiapkan anak-anak untuk siap tempur di perang UN, sampai mengurusi penggunaan Dana BOS yang menurut saya berbelit dan merepotkan. LUAR BIASA!. Lebih luar biasa lagi bagi mereka yang tetap bertahan menjalankan tugasnya dengan sempurna bukan sekedarnya. Meski digaji sekedarnya.

Bersambung

*tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Indonesia Berkibar 2012*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s