Akhirnya…ngopi juga

Bismillah…

Klo liat orang sampe addict banget minum kopi, kadang2 ane suka heran sendiri. Dari mulai kopi instant sampe kopi asli (tubruk mungkin ya bahasa perkopiannya). Akhirnya, ane yang ga terlalu suka minuman berwarna ini pun tertarik juga buat icip-icip kopi. Kopi pertama yang pernah ane coba adalah kopi instan, yang klo diseduh serbuknya langsung hilang. Versi ane dulu, kopi instan itu lebih modern n ‘muda’ dibandingkan kopi tubruk yang khas bapak-bapak.

Akhirnya setelah mencoba kopi instan yang harum itu, sensasi aneh pun terjadi. Deg2an dan mual dengan perasaan yang ga karuan *lebay. Dan selanjutnya adalah susah tidur -_-‘. Hah…walau efeknya kek gitu, ane kadang2 masih penasaran buat nyoba2in kopi. Ada yang bilang mungkin harus makan dulu sebelum minum kopi buat ngilangin rasa mualnya. Ok, akhirnya ane coba makan dulu sebelum minum kopi instan. Dan, nyatanya sama aja.

Hingga tersebutlah suatu hari, seorang teman ngasih satu bungkusan kopi robusta’a “Aroma” (tau kan warung kopi di daerah Banceuy yg super terkenal itu?) ke ane. Yang konon katanya kopi beginianlah yang kafein’a sedikit dan -kemungkinan besar- ga akan bikin ane deg2an n mual2 lagi. Tapi ternyata….selain ga tahan pahitnya, ane pun harus melewati sensai itu lagi..hah. Semakin menyerah menghadapi kopi. Ingin berteman namun tak bisa..hahaha.

Kopi dan aromanya membuat ane selalu penasaran untuk nyobain merk satu ke merk yang lainnya. Oh sulitnya menikmati kopi untuk jenis makhluk kek ane ini.

23 Desember 2011, setelah berjibaku dengan skripsi. Festival Kopi se-Indonesia akhirnya dilaksanakan juga di Bandung, tepatnya di Cihampelas Walk alias Ciwalk. Jejeran kedai kopi menghiasi Ciwalk, dari mulai kopi instan sampai kopi luwak yang harganya setinggi langit. Semerbak aroma kopi berhamburan menyambut ane saat menginjakkan kaki di area festival ini. Ah, harum seperti biasa, namun bayangan mual dan deg2an masih membayang saat ane menyeruput kopi2 itu. Satu per satu kedai ane sambangi. Kopi luwak, jenis kopi yang selalu membuat ane penasairan karena harganya yang amit2 itu menggiring ane menyambangi kedainya. Sambil berharap ada kedai yang menyediakan tester kopi luwak gratis untuk orang2 nanggung seperti ane ini, haha. Setelah disurvey dengan mata yang remang2, ternyata kedai itu hanya dipenuhi oleh orang2 berada yang menjadikan ritual minum kopi sebagai life style mereka (bikin gw ga pede).

Setelah dipastikan ternyata kedai kopi luwak tidak menyediakan tester gratisan, beralihlah ane ke satu kedai bernama “Bandar Kopi”. Jejeran kopi dari berbagai daerah di Indonesia menghiasi meja kedai itu. Gayo, Mandailing, Lintong, Flores, Java, Bali, Wamena, dan Kopi khas Bandar Kopi sendiri (campuran kopi2 Sumatera baik Arabica ataupun Robusta). Semakin tertarik dengan biji keramat ini :p.

Niat mencari ilmu akhirnya kesampaian juga. Sang Barista dengan sabar meladeni setiap pertanyaan culun ane tentang kopi (Rada berasa kampring juga sih pas tanya2 tentang kopi..maklum amatiran :p).

Pertanyaan 1 :
Q : Mas kopi apa yang paling enak?
A : Lintong sama Wamena mba, sayang wamenanya abis
Q : Klo Bali?
A : Versi aku sih ga terlalu enak, kopinya asem
Q : Manggut2 ga ngerti :p

Pertanyaan 2 :
Mas Barista : Mau coba kopi espressonya mba?
Ane : Boleh (sambil deg2an bakal merasakan sensasi aneh itu lagi atau ga pasca minum)

Ya..secangkir kopi espresso dari Bandar Kopi tersajikan dengan aromanya yang sangat2 harum berbeda dengan kopi Kapal Api kesukaan babeh ane(maklum belum bisa mendetailkan aroma seperti apa yang keluar dari kopi itu). Srupuuut…ah pahit khas kopi, tapi yang ini beda, seperti apa? entahlah pokoknya beda dan nikmat. Inilah kali pertama ane bisa minum kopi dengan nikmat, menikmati rasa pahitnya, menikmati aroma uniknya, menikmati campuran gula dan pahitnya. Dan yang paling mengagetkan adalah : ANE GA DEG2AN DAN MUAL sodara2. *prok2…

Setelah menghabiskan satu cangkir kecil espresso gratisan, ane pun memboyong 2 bungkus kopi (Lintong dan Bandar Kopi) untuk mbak ane. Tandanya, ane pun dapet 1 cup coffee latte untuk dinikmati gratisan lagi…hahaha. Dan inilah latte ternikmat yang pernah ane coba (maklum, ane cuma pernah nyoba good day latte :p *pembanding yang tak sebanding). Karena perbandingan kopi dan susunya adalah 1:2, mungkin pekat sang kopi tidak terlalu terasa. Tapi, perpaduan antara kopi dan susu itu terasa sangat harmonis. Apalagi setelah dicampur 2 bungkus brown sugar ke dalamnya. Ah maknyus brooo…

Yaya…konon kabarnya kopi berampas memang tidak menimbulkan efek deg2an dan mual. Ah, semakin tertarik mengidentifikasi dan mendefinisikan aroma serta rasa dari berbagai macam jenis kopi, cara menyeduh dan alat seduhnya. Terjawab sudah kebingungan ane tentang “kenapa sekelompok orang benar2 addict pada kopi”. Sayonara kopi instan :p

La

Bandar kopi yang aromanya unik..blend

Kopi Lintong, penasaran rasanya

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s