Start kita yang beda

Bismillah…

Hummm….setelah menjelajah beberapa blog milik foodie blogger, ada rasa takjub sekaligus ironis. Takjub karena hampir rata-rata pemilik foodie blogger (yang concern di food photography juga loh ya) adalah seorang perempuan dan ibu rumah tangga, WOW !. Ya, mereka mampu menghasilkan karya dari rumah mereka sendiri dengan jam kerja yang sangat-sangat bisa disesuaikan. Ironis ? sebenarnya hanya berkaca pada diri sendiri yang katanya mahasiswi tata boga :p. Ibu-ibu luar biasa itu masuk ke dunia food photography dimulai dari hobi memasak, dan butuh mengabadikan hasil masakan mereka dengan gambar yang tidak seadanya. Jadilah mereka belajar memotret makanan. Sebutlah mbak Riana Ambarsari (namanya mirip sama saya…haha..Hesty Ambarwati :p) yang memulai semuanya dari kegemarannya memasak (bukan begitu ?)

Saya ? memulai semuanya dari hobi fotografi. Bukan makanan, tapi human interest. Dan tempat saya bekerja hari ini : Posko Studio 86, bergelut di bidang wedding photography.Walaupun baru 3 tahun bergelut dengan dunia fotografi, namun “rasa” pada setiap foto yang saya jepret, sedikit tidaknya mempengaruhi cara memotret saya pada dunia food photography.

Baru 4 kali saya memotret makanan, dan langsung disibukkan dengan banyak pertanyaan tentang dunia baru ini. Proses adaptasi masih terus diusahakan agar saya bisa mencintainya. Kenapa saya harus jatuh cinta padanya ? karena foto tanpa cinta akan kehilangan “nilai”. Goalnya, saya harus bisa menikmati dunia penuh warna dan penuh rasa ini.

Oh iya, terkadang dalam proses editing saya suka kebablasan memberikan tone. Tone-tone indah pada foto-foto human interest atau portrait tidak selamanya cocok diterapkan di dunia food photography. Kejujuran pada gambar tampaknya harus ditonjolkan di sini, maka saya harus sadar diri untuk tidak banyak-banyak menggunakan efek BW, vintage, dan saudara-saudaranya karena akan mengganggu imajinasi penikmatnya.

Contoh :

*Tone Asli dari kamera

* tone vintage

* Isolasi warna

Itulah, banyak hal yang tidak bisa membuat saya bebas berekspresi di dunia yang “terpaksa” saya cemplungi ini. So, banyak hal yang harus saya eja kedepan agar tetap menikmatinya.

Tantangan yang kedua

karena saya memulai start yang berbeda dengan foodie blogger yang lain. Singkatnya, mereka mahir membuat objek fotonya sendiri (baca : mahir memasak) sedangkan saya ? mahir masak engga, fotografi juga pas2an, saya hanya suka mendandani makanan itu menjadi cantik just it..haha. Karena ketidakmahiran saya memasak dan mengolah masakan2 yang cantik maka  menjadi kendala yang cukup mutakhir abad ini. Objek foto yang saya pajang di blog ini murni bukan buatan saya saudara-saudara !. Ada hasil buatan bude saya, atau beli di warung. Maka saat saya foto dan dibuat resumenya, terkadang orang bertanya : “Mba ini masakan atau minuman judulnya apa ? bagaimana rasanya ?” , saya akan jawab dengan lantang : MENEKETEHE😛. Khususnya pada sesi foto frutang. Saat ada yang bertanya bagaimana rasanya frutang dicampur dengan kurma, maka saya pun bingung menjawabnya. Selain saya hanya punya satu frutang dan dia sudah dengan suksesnya saya obok2 karena beberapa kali gagal membuat efek beku, lalu tampaknya kurma yang saya pakai untuk membuat efek muncrat pun sudah kadaluarsa😀.Siapa yang berminat mencicipinya?

Yah intinya, saya tidak bisa bebas bereksperimen dengan objek2 belian itu. Banyak hal yang membuat saya tidak sreg dengan model2 tersebut. Dari mulai warnanya, bentuk ataupun tekstur. Jadi pesan moral untuk point ini adalah : saya harus menantang diri untuk bisa memasak…haha

Tantangan Ketiga

Mengenai persepsi orang pada foto produk. Human interest, atau portrait (P.s : foto2 tidak untuk dijual) mampu membuat imaginasi saya meliar. Saya bisa menuangkan persepsi saya pada sebuah peristiwa yang  kemudian saya rekam dalam gambar tanpa harus diprotes oleh orang lain. Saya bebas menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan di dalamnya. Bagaimana dengan food photography ? ada aturan-aturan yang membatasinya😀 (panning tidak mungkin saya pakai pada foto makanan kaaan?). Kebebasan saya terbatas pada pandangan orang mengenai karya saya. Intinya, saya sedang tidak menjadi diri sendiri saat memotret makanan. Hahahaha. Tapi, dilihat-lihat foto yang saya jepret tetap mengandung karakter kuat diri saya. Khususnya pada penggunaan propertinya. Hahaha…pengobat rindu lah yaaa.

Sekian dan terima kasih. Fotografer yang amphibi, mungkin begitulah saya hari ini. Berusaha mencintai setiap sisinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s