Foto diniatin (dumpling)

Bismillah….

Bermula dari perbincangan antara saya dengan teman di kampus :

Intan : “eh hesti, kamu teh anak tata boga naha foto-foto di album FB kamu teh ga ada foto makanan sedikitpun?

Hesti : “Hahahaha….biarin ateuh”

Intan : “Sok atuh, fotoin dumpling intan buat PMW (Program Mahasiswa Wirausaha)”

Hesti : “Hummm….soklah asal dikasih dumpling’a :p”

Dan jadilah, setelah kejadian cakap-bercakap itu saya langsung mengamati foto-foto makanan yang ada di  majalah ataupun via om google. Mengamati komposisi dan konsep yang baik, background apa yang bagus, pola-pola food stylingnya, prinsip-prinsip dasar fotografinya, dan property apa yang pas digunakan untuk makanan Cina ini.

Berbekal kepedean tingkat tinggi sayapun langsung menyiapkan :

1. Peralatan memotret (DSLR Olympus E-510 ; Lensa Macro 50mm F 2.0 ; External Flash ; Tripod)

Kenapa saya menggunakan DSLR ? selain karena sudah rezekinya saya punya DSLR (tepatnya membajak DSLR kakak saya). DSLR memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan kamera saku. Salah satu diantaranya saya bisa memilih ISO dengan leluasa, bisa menggunakan lensa yang sesuai untuk food photography, bisa menyetting kamera dengan lebih leluasa.

Kenapa saya menggunakan Lensa 50 mm F2.0 ? karena lensa ini memang cocok untuk memotret produk, apalagi bukaan/aperture maksimumnya lumayan besar sehingga bisa menimbulkan efek DOF (depth of field) yang  tipis (background blur menjadi lebih luas, sehingga POI yaitu makanan akan lebih jelas terlihat). tapi karena Olympus e-510 termasuk pada golongan kamera four third..jadi sensor’a ga gede2 amat…ditambah lagi 50 mm ini punya pembesaran 1:2..jadilah saya ga terlalu leluasa saat memotret karena gambar dikamera dengan yang diaslinya jadi dipotong setengahnya (begitu bukan?)…ya daripada pusing sama alat tempur..mending berkarya pada konsep dan ide saja..

External flash ? karena saya yang biasa motret manusia di ruangan gelap, maka sudah punya paradigma bahwa cahaya yang baik adalah cahaya yang muncul dari flash external. selain juga saya tidak memiliki peralatan pencahayaan yang keren-keren amat. (walau ternyata..cahaya natural lebih ciamik)

Tripod : untuk menghindari goncangan dari tangan yang capek menahan bobot DSLR yg lumayan bikin tangan kita berotot.

2. Pendukung dan utama

kamera sudah ada, tinggal peralatan pendukungnya dan ini juga yang utama :

  1. Kain putih sebagai background untuk menimbulkan kesan lebih minimalis pada foto. Karena uang yang pas-pasan, maka kerudung bekas yang warnanya sudah ga putih-putih amat pun bisa menjadi alternative background :p (warna lain juga boleh..ini masalah selera aja)
  2. Property (Piring saji hitam, sumpit, kelakat, chopping board, mangkuk saus dan kecap)
  3. Minyak dan kuas. Untuk membuat kesan dumpling yang mengkilat dan menggugah selera, maka olesi dumpling dengan minyak terlebih dahulu.
  4. Asisten..hahaha, lumayan membantu kita selama proses foto berlangsung
  5. Meja pendek untuk meletakkan objek foto

Di sebuah kamar kosan seorang teman kami pun beraksi, merubah ia menjadi studio mini yang abal-abal. Mengolesi dumpling dengan minyak, menatanya dengan sedemikian rupa (masih menggunakan intuisi :p) di atas meja yang sudah didasari kerudung putih. Memasang lensa dan external flash pada kamera, dan kamera pada tripod. Oh iya, untuk penggunaan external flash, gunakanlah teknik bounce flash (pantul). Artinya flash diarahkan ke langit-langit kosan, beruntunglah kosan kami yang memiliki langit-langit rendah. Teknik ini memungkinkan cahaya yang dihasilkan lebih merata dan bayangan menjadi lebih halus dibandingkan dengan direct flash (flash diarahkan langsung kepada makanan). Untuk sementara, hasil pemotretan dengan teknik bounce flash menghasilkan foto yang lumayan, daripada lumanyun :p. Saya belum bereksperimen dengan penggunaan cahaya alami (matahari) ataupun dengan bantuan reflector, mungkin esok atau lusa kita berjumpa lagi.

3.Settingan kamera yang saya pakai

Mode : Aperture  priority, selain karena saya belum menguasai mode manual :p, mode ini dirasa lebih praktis karena kita hanya mengatur besarnya bukaan lensa (aperture), maka shutter speed dan ISO secara otomatis akan mengikutinya (walau untuk beberapa kondisi saya harus menyetting ulang ISOnya). Dengan menggunak

an mode ini, saya bisa menentukan bukaan lensa dan ruang tajam (DOF) sesuka hati (untuk penjel

asan prinsip bukaan lensa dan DoF tampaknya butuh ruang khusus). Biasanya untuk foto makanan pada sesi ini, saya banyak menggunakan bukaan di f/2.8 a

tau f/3.2. F/2.8 ataupun f/3.2 menurut saya cukup ideal, karena Dofnya tidak terlalu sempit, sehingga satu pieces dumpling dapat terlihat secara utuh, sedangkan background yang blur tetap kita dapatkan.

Ini dumpling daging rasa rendang :

Ini salah satu versi yang pakai bukaan lebih dari f/3.2 (lupa baca exifnya..haha):

Dumpling isidaging :

Dumpling isi daging dengan settingan kamera : shutter priority

Ini kwetiau ubi :

Mohon kritikannya untuk pembelajaran saya :D….maklum kan mau belajar dengan murah tapi ga murahan…salam jepret buat kita semuanya

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s