[Pendidikan] Mandiri Bersama “Cuanki”

<< orang ini lagi bingung ngasih judul :p

Saya dulu pernah bilang, klo orang-orang sevisi pasti Allah pertemukan jalannya. Dan hari ini saya kembali meng-aamiin-i. Selang beberapa jam setelah saya menjadi narasumber di acara LSIP Untirta 17 Mei 2013 lalu. Saya dihubungi oleh seseorang yang ternyata melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh teman-teman sekolah mandiri lainnya.

24 Mei 2013 ini saya berkesempatan untuk silaturahim dan belajar ke tempat beliau. Lokasinya di Kampung Keronjen, Kemeranggen, Kramatwatu, Serang – Banten. Hanya 20 menit dari rumah orang tua saya, jika naik motor. Masih sangat dekat dengan kota. Setidaknya saya tidak harus mengalami sensasi off road seperti yang saya alami di Tasikmalaya Selatan. Jalannya kecil namun beraspal halus. Tapiiii, setelah masuk 100 m dari Gapuran Kemeranggen saya mendapati suasana yang berbeda. Rumah penduduknya masih didominasi oleh kayu, barisan ibu-ibu menggunakan jarit dan kebaya jadul serta selendang penutup kepala sedang mengolah melinjo menjadi emping. Dan yang mengagetkan adalah, tumpukan sampah yang sedang dibakar, dekat dengan jalur pipa Pertamina. Kampungnya kumuh, sampah plastik menumpuk di sisi jalan. Aroma kotoran manusia-pun semerbak menghiasi perjalanan saya *hufft*.

Sampai di Yayasan Ummatan Wasathon, saya disambut oleh ibu-ibu sambil menggendong bayinya. Berasa banget jomblonya *hahaha*. Pertemuan santai itu dimulai dengan pengantar dari Pak Haji (orang sebut beliau seperti itu, saya sendiri lupa nama beliau..hahaha) tentang apa itu Yayasan Ummatan Wasathon.

Yayasan ini sebenarnya adalah kepanjangan tangan dari organisasi Persaudaraan Masyarakat Ummat (PMU) yang basisnya ada di Balaraja РBanten. Kemudian mengembangkan sayap pendidikannya di wilayah Keronjen. Bentuknya pendidikan informal, dalam kerangka home schooling tambahan (baca: bimbel). Diperuntukkan bagi anak-anak pedagang  Cuanki. Oh iya, PMU memiliki program pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan cara berjualan Cuanki (saya disuguhi Cuanki looh)

Hebatnya, biaya operasional pendidikan didapat secara mandiri dari hasil jualan Cuanki. Mereka sudah memiliki 8 titik gerai Cuanki di Banten. Cuanki ini diproduksi oleh mereka sendiri beserta anak-anak yang berasrama disana.

Ada 60 siswa yang menempuh pendidikan informal dengan 7 orang guru. Guru-guru yang mengajar adalah istri-istri pengurus yayasan, yang seluruhnya berasal dari luar Banten. Background pendidikannya SMP, SMA bahkan ada yang tak menempuh pendidikan formal sama sekali. Tapi pengalaman mengajar dan berorganisasi mereka sangat luar biasa. Loyalitas mereka terhadap pendidikan menjadi modal utama menuju gerbang menuntut ilmu lebih luas lagi.

“Tanggungjawab ilmu itu harus ditransfer teh”¬†ujar Bu Mimin, salah satu pengajar di tempat ini.

Jalan menuju Yayasan Ummatan Wasathon

Jalan menuju Yayasan Ummatan Wasathon masih asri

Melewati kolong jalan tol Jakarta - Merak

Melewati kolong jalan tol Jakarta – Merak

Warga membuang sampah dipinggiran jalan dekat jalur pipa Pertamina

Warga melintasi tumpukan bakaran sampah dipinggir jalan Keronjen, tempat ini adalah jalur pipsa Pertamina

Jalur pipa Pertamina, salah satu tulisannya adalah "Dilarang Bakar Sampah"

Jalur pipa Pertamina, salah satu tulisannya adalah “Dilarang Bakar Sampah”

Yayasan Ummatan Wasathon

Yayasan Ummatan Wasathon

Menuju tempat produksi Cuanki

Menuju tempat produksi Cuanki

Tempat produksi Cuanki

Tempat produksi Cuanki

Membuat gerobak Cuanki sendiri

Membuat gerobak Cuanki sendiri

Beternak ayam sebagai bahan campuran bakso sapi untuk menekan harga produksi

Beternak ayam sebagai bahan campuran bakso sapi untuk menekan harga produksi

Anak-anak asrama

Anak-anak asrama

Bu Mimin, salah satu guru di Yayasan Ummatan Wasathon

Bu Mimin, salah satu guru di Yayasan Ummatan Wasathon

Ibu Ai, salah satu pengajar di Yayasan

Ibu Ai, salah satu pengajar di Yayasan

Pak Usep, salah satu pengurus Yayasan

Pak Usep, salah satu pengurus Yayasan

N.b “Maap ga ada foto Cuankinya..lupa, langsung dilahap

About these ads

5 responses

  1. Bercermin dari Ummatan Wasathon Keronjen yang bisa mandiri dengan Cuanki, sudah saatnya mengolah kemandirian Rabbani Cimenyan dengan “sesuatu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s