[Jepret Lagi] Gehu Jeletot Fresh From the Penggorengan

[Jepret Lagi] Gehu Jeletot Fresh from the penggorengan :p

Bismillah

Hari yang syahdu di tengah rintik hujan dan disanalah helm saya yang teronggok di atas motor menjadi kebasahan. Akhirnya menimbulkan efek kedinginan dan kelaparan pada tubuh saya yang hanya satu-satunya ini. Sambil terus mengendarai motor saya berpikir tentang makanan apa yang enak untuk dimakan dalam keadaan dingin seperti ini. Gehu Jeletot, seketika saya memarkirkan motor di pelataran parkiran.

Gehu Jeletot, sudah beberapa bulan ini menjadi primadona Kota Bandung. Bermula dari kios sederhana di depan Alfa Mart Geger Kalong Girang, kemudian menjelma menjadi franchise yang pasarnya merambah sampai ke pelosok Bandung. Idenya sederhana : “bagaimana setiap pembeli tetap bisa memakan gehu (tahu isi.red) namun pedasnya merata, tanpa harus khawatir kehabisan cengek”. Begitulah Gehu Jeletot muncul, seperti namanya yang jeletot (istilah jeletot sendiri saya agak bingung mendefinisikannya :D) rasa dari gehu ini sangaaaatlaaah pedas. Cocok untuk kalian yang sudah lama tidak BAB :p agar lancar jaya.

Cukup dua biji saja dapat membuat perut ini penuh dan mules. Isian cabai, kol, wortel dan daging sapi menambah kenikmatan gehu jeletot ini, apalagi saat dimakan dalam keadaan panas, makin njeletot deh. Ukuran tahunya yang segede gaban membuat uang Rp 2.000,00 tidak sia-sia dikeluarkan untuk satu buah gehu jeletot.

Sesampainya dikosan, saya langsung menyiapkan segala peralatan tempur untuk memotret keindahan sang gehu jeletot :p. Karena keterbatasan property maka saya hanya akan mengambil konsep sederhana untuk sesi pemotretan kali ini. Chopping board, background hitam dari kerudung hitam saya, dan kamera siap menemani eksperimen saya kali ini.

Satu hal yang melonjak-lonjak nakal di pikiran saya adalah : bagaimana saya bisa memotret asap mengebul dari dalam gehu saat ia dibelah :D. Karena pemotretan dilakukan tidak di tempat penjualan, artinya gehu yang saya bawa dari warung gehu jeletot menuju kosan saya dengan suhu Bandung yang sebegini dinginnya membuat gehu jeletot sudah tidak hangat lagi. Jadilah saya memutar otak bagaimana menimbulkan efek asap panas muncul dari gehu pedas. Dulu saya pernah menonton satu klip tentang tutorial food photography yang didownload dari youtube. Ia memberikan tips untuk menimbulkan efek asap bisa menggunakan asap rokok. Hah, tampaknya cara ini tidak mungkin saya lakukan, secara ga mungkin juga saya yang pakai jilbab ini mendadak beli rokok di warung. Apa kata duniaaa, begitu teriak Dedy Mizwar.

Akhirnya setelah melewati masa kontemplasi yang cukup rumit :D. Saya memutuskan untuk menggunakan : Lilin, korek api, dan kertas sebagai media penghasil asap. Sebelum saya bereksperimen dengan sang model (baca : gehu pedas) terlebih dahulu saya coba memotret media-media tersebut, mana diantara mereka yang menghasilkan asap cukup banyak dan lama keluarnya. Dan kertas yang dibakar menjadi media yang cocok untuk sementara ini, setidaknya sampai saya menemukan cara yang lebih manusiawi lagi untuk menghasilkan asap :p.

Inilah sesi pemotretan paling merepotkan yang pernah saya lakukan, apalagi tanpa asisten yang bisa membakarkan kertas sekaligus memegangkan kertas di dekat objek foto. Tripod menjadi alat yang paling membantu saat itu. Ok kita coba rangkaian langkahnya ya :

  1. Pasang kamera pada tripod dengan settingan yang sudah disesuaikan.
  2. Atur auto fokusnya. Pastikan kondisi kamera sudah siap jepret, karena asap yang keluar dari kertas cukup singkat.
  3. Bakar kertas cukup lama sampai bara cukup banyak.
  4. Saat api mati, dekatkan kertas pada makanan
  5. Langsung jepret….akan lebih baik jika release mode disetting pada mode continuous, artinya kamera bisa melakukan berkali-kali jepretan dalam sekali tekan.

Dan seperti inilah jadinya :

ahaiii..seperti masih hangat kan yaa? benar2 baru diangkat dari penggorengan :D… Tapi untuk mendapatkan satu foto ini saya harus berkali-kali gagal panen :D. Karena keterbatasan manusia (baca : asisten) maka mengarahkan kertas yang dibakar sekaligus menekan shutter adalah saya sendiri. Alhasil, banyak foto yang gagal panen karena koordinasi antara tangan kiri dan tangan kanan tidak kompak, seperti gambar dibawah ini :

* diambil saat uji coba pertama, menggunakan korek api :D. Eh si korek kecentilan minta difoto

* uji coba kedua, menggunakan kertas yang dibakar. Eh, si kertas juga ikut kecentilan pengen difoto :P

Ya, intinya adalah lakukan apapun juga untuk mendapatkan hasil foto yang kau inginkan. Tapi setelahnya, saya jadi mikir-mikir untuk makan gehu jeletot ini :D, secara udah dipegang-pegang ga karuan, + bonus dikasih asap :p

Gambar yang lain numpang nampang :

-          Behind the scene –

*Beginilah studio abal-abal milik saya bekerja :p

About these ads

11 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s